Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Thomas Kukuh
Rabu, 21 Desember 2016 | 20.56 WIB

Kisah Pilu Mantan Ajudan Soekarno: Kandang Ayam Lebih Baik dari Rumah Saya

PAHLAWAN TERLUPAKAN: Ayub Kafiar, veteran yang pernah menjadi ajudan Ir Soekarno dan ikut berjuang dalam pembebasan Irian Barat yang kini terlupakan menunjukkan foto bersama presiden pertama Republik Indonesia, Selasa (20/12). - Image

PAHLAWAN TERLUPAKAN: Ayub Kafiar, veteran yang pernah menjadi ajudan Ir Soekarno dan ikut berjuang dalam pembebasan Irian Barat yang kini terlupakan menunjukkan foto bersama presiden pertama Republik Indonesia, Selasa (20/12).

Banyak yang berperan dalam perjuangan pembebasan Irian Barat. Banyak pula yang namanya diakui oleh Negara sebagai pahlawan Pembebasan Irian Barat. Namun ada pejuang yang namanya terlupakan. Salah satunya yakni Ayub Kafiar.





NORMA FAUZIA MUHAMMAD, Radar Sorong



--------------------



SANG proklamator Soekarno pernah berujar: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Ya, dalam sejarah pembebasan Irian Barat, banyak pejuang yang ikut berperan dan mengorbankan nyawanya.



Sebagian besar, para pejuang itu, nama-namanya tercatat sebagai pahlawan. 



Namun, ada juga nama yang terlewatkan. Salah satunya Ayub Kafiar. Veteran pejuang kelahiran Ambai 3 April 1923, yang sudah ikut berjuang sejak tahun 1947 ini tak masuk dalam deretan nama pahlawan pejuang pembebasan Irian Barat. Padahal, ia mengaku ikut berperan penting dalam perjuangan itu.



Kisahnya pun berlangsung memilukan. Kurang lebih 20 tahun, ia tinggal di sebuah rumah yang boleh dibilang jauh dari kata layak. Rumah yang beralamat di Jalan Danau Ayamaru, Rufei Pantai, Distrik Sorong Barat ini sangat memprihatinkan. Terlebih untuk seorang pejuang yang berjasa bagi bangsa dan Negara.



Kendati ada program bedah rumah, tapi rumahnya pun luput dari daftar rumah yang direnovasi. Namun di rumah inilah dia tetap bersyukur dan bangga melihat Papua Barat menjadi bagian dari NKRI.



Bangunan sangat memprihatinkan itu terlihat mulai dari luar. Kondisi di dalamnya juga sungguh menyentuh hati. Tak terawat dan sangat menyentuh iba. Ia tak mendapat perhatian dari pemerintah. 



Usianya sudah sangat renta, pendengaranya pun sudah sangat berkurang. Untuk memudahkan berbincang, harus sedikit mengeraskan suara. 



Raut wajahnya sudah keriput, jalan sudah tergopoh-gopoh dan pendengaran tak lagi baik. Namun, soal ingatan akan perjuangan pembebasan Irian Barat, memorinya masih sangat baik. 



Sambil bercerita kepada wartawan Radar Sorong (Jawa Pos Group) dia menunjukkan fotonya bersama Soekarno. Dalam setiap kalimat yang dia lontarkan terpancar rasa bangga menjadi bagian dari perjuangan pembebasan Irian Barat. Di dalam hatinya memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. 



Saat itu, Ayub bicara, tentang Provinsi Irian Jaya merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terletak di bagian Timur wilayah Indonesia. 



Pada tanggal 19 November 1969 melalui Resolusi PBB No. 2504, Papua secara resmi menjadi bagian dari NKRI.



“Pemerintah janji mau perbaiki rumah saya. Padahal kandang ayam lebih baik dari rumah saya. Saya dilupakan pemerintah, saya sudah bantu Papua,” kata pejuang yang sudah 80 tahunan ini dengan seragamnya bertopi merah dan selembar foto saat ia bersama Presiden Alh.Ir.Soekarno sembari menebarkan senyuman khasnya

Editor: Thomas Kukuh
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore