
RITUAL ADAT: Para niniak mamak dari Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, menuruni tangga sambil membawa tanah kubur Sutan Ibrahim alias Tan Malaka di lereng Gunung Wilis, Selopanggung, Kabupaten Kediri, Selasa (21/2).
Gagal membawa jasad yang diyakini sebagai Tan Malaka, para niniak mamak (pemangku adat) dari Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, melakukan upacara penjemputan gelar Datuk Tan Malaka di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Upacara itu sekaligus penyematan gelar Datuk Tan Malaka ke-7 kepada keponakan sang pahlawan nasional tersebut.
REKIAN, Kediri
-----------
Suasana Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, mendadak ramai pada Selasa siang (21/2). Rupanya, ada rombongan tamu dari jauh yang mendatangi lereng Gunung Wilis tersebut. Tujuannya adalah makam desa setempat. Di area pekuburan itulah diyakini bersemayam jasad pahlawan nasional Sutan Ibrahim yang lebih dikenal dengan nama Tan Malaka.
Rombongan itu merupakan para pemangku adat di keluarga Tan Malaka bersama para pejabat Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Menumpang tiga bus, mereka tiba sekitar pukul 10.00. Selain bus, ada sejumlah kendaraan dinas.
’’Kami ke sini untuk melakukan upacara adat penjemputan gelar Datuk Tan Malaka dari Sutan Ibrahim untuk kami sematkan kepada Hengky Novaron Asril,’’ jelas Ferizal Ridwan, wakil bupati Limapuluh Kota selaku ketua rombongan, kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Prosesi adat tersebut dinamakan basalin baju, yakni penyematan baju kebesaran Datuk Tan Malaka berwarna kuning kepada sang keturunan ke-7 Hengky Novaron Asril, yang dalam silsilah keluarga merupakan keponakan Sutan Ibrahim.
Menurut Ferizal, Tan Malaka adalah raja yang membawahkan 142 pemangku adat di Sumatera Barat. Maka menjadi keharusan bagi mereka untuk memulangkan gelar Tan Malaka dari Kabupaten Kediri ke daerah kelahirannya agar kesinambungan adat itu tetap terjaga.
’’Namun, kami tidak ingin mengambil jasad Ibrahim (Sutan Ibrahim). Kami hanya ingin memulangkan gelarnya, Datuk Tan Malaka,’’ kata Wabup kelahiran 9 Oktober 1973 tersebut.
Maka sebelum prosesi itu, pada Minggu (5/2), Ferizal mengutus orang untuk datang ke Kabupaten Kediri. Tujuannya, membicarakan persiapan upacara adat dengan pihak Pemkab Kediri. Setelah itu, upacara penjemputan dimulai dengan konvoi lewat jalan darat dari Sumatera Barat, 16 Februari lalu. Rombongan melintasi tempat-tempat yang konon pernah menjadi persinggahan Tan Malaka.
Puncak upacara dilangsungkan pada 21 Februari bertepatan dengan tanggal meninggalnya Tan Malaka. Seperti tercatat dalam sejarah, Sutan Ibrahim (Tan Malaka) meninggal setelah ditembak tentara di bawah komando Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya, di Kediri pada 21 Februari 1949.
Sosok Tan Malaka memang kontroversial. Di satu sisi, dia dikenal sebagai pahlawan nasional (berdasar Keputusan Presiden RI No 53 yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963). Banyak jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tapi, di sisi lain, perjuangannya dalam melawan penjajah Belanda itu juga dikait-kaitkan dengan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI).
’’Tidak ada penggalian makam Tan Malaka. Upacara ini juga tidak akan merusak hubungan kami dengan Pemerintah Kabupaten Kediri,’’ ucap Ferizal yang mengaku sudah mengirimkan surat ke Kemensos maupun Pemkab Kediri.
Meski makam Tan Malaka di Selopanggung, Semen, masih merupakan kontroversi, Ferizal mengatakan bahwa pihaknya tetap yakin jasad Tan berada di makam itu dengan tiga metode. Pertama, penelusuran sejarah. Kedua, tes DNA (meski sampai kini belum dibuka ke publik hasilnya). Ketiga, yang menarik, dengan dialog gaib lewat mimpi. ”Itu yang membuat kami yakin keberadaan Tan Malaka ada di Selopanggung,” katanya.
Prosesi yang digelar sekitar pukul 10.00 tersebut berlangsung khidmat. Sebelumnya rombongan singgah di rumah warga di ujung gang menuju makam. Di sana Wabup Kediri Masykuri sempat memberikan sambutan. Begitu pula Wabup Ferizal. Kemudian, rombongan yang mengenakan pakaian adat Nagari Pandam Gadang berjalan berarak menuju pusara Tan Malaka. Jaraknya sekitar 2 kilometer, naik turun.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
