
TOKOH: Muhammad Salim diapit wartawan Jawa Pos Salman Muhiddin (kiri) dan fotografer Jawa Pos Guslan Gumilang Jumat (5/5) di halaman rumah Desa Diponggo, Bawean, Gresik.
Tahir ditangkap bersama Serda KKO Anumerta Usman Janatin setelah mengebom McDonald House di Orchard Road, Singapura. Kapal karet yang ditumpangi mereka berdua terkena razia patroli polisi laut Singapura tiga hari setelah peledakan. Aparat keamanan setempat memang melakukan operasi pengamanan besar-besaran tiga hari setelah ledakan. Nyaris tidak ada celah untuk kabur meski hanya selubang jarum.
Kenakalan Tahir kecil tidak berhenti di situ. Dia juga pernah ketahuan mencuri padi di Desa Kepuh Teluk, Desa sebelah. Namun, padi itu tidak dia bawa pulang atau dimakan sendiri. Melainkan, dibagi-bagikan kepada fakir miskin di Pulau Putri, sebutan lain Bawean. Tampaknya, dia terinspirasi kisah Sunan Kalijaga. ”Wah, gara-gara itu, dia sampai dirantai,” ucap Salim lalu meringis sambil geleng-geleng kepala.
Di rumah Salim terpampang pigura dengan lukisan wajah Tahir. Pria berkumis tipis itu mengenakan baret di kepalanya. Terlihat tulisan KKO di sebelah kiri baju hijau dorengnya. Di sebelah kanan terpampang nama Harun. Di bawah pigura itu, ada juga foto KRI Usman-Harun yang sedang menerjang ombak.
Harun sejatinya nama samaran. Saat menyamar sebagai warga sipil di Singapura, nama asli Tahir bin Mahdar diganti dengan Harun bin Said.
Saat peresmian KRI Usman-Harun pada awal 2014, Salim diundang. Saat itu, ketegangan Indonesia dan Singapura sempat kembali memanas. Singapura protes karena nama kapal tersebut dianggap sebagai provokasi.
Namun, pihak keluarga menganggap penamaan kapal tersebut lumrah saja. Sebab, keduanya gugur dalam tugas negara. Karena itu, negara berhak menobatkan keduanya sebagai pahlawan.
Selain foto, salah satu peninggalan pahlawan yang lahir pada 14 April 1943 itu adalah rumah tinggal. Letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah Salim. Deretan bangunan di atas bukit tersebut menjadi kompleks rumah keluarga besar.
Salim lalu membuka gembok pagar bangunan selebar 8 meter sore itu. Rumah berwarna dominan putih tersebut tidak ditempati. Di situ terdapat dua pintu masuk. Yang sebelah kiri mengarah ke ruang tamu. Satu lagi langsung mengarah ke dapur.
Kami masuk dari pintu ruang tamu. Hawa pengap langsung merasuk ke paru-paru. Sudah lama rumah itu tidak dikunjungi. Beberapa kelelawar terlihat beterbangan di dalam rumah. Hewan nokturnal penghuni rumah tersebut kaget dengan kedatangan kami.
Terdapat amben kayu di ruang tamu itu. Bagian atasnya dilapisi anyaman bambu. Dahulu ruangan tersebut dijadikan tempat berkumpul keluarga atau para tamu. Di ujung kanan ruangan ada beberapa guci tua yang terlihat masih utuh. Memang banyak guci kuno yang ditemukan di Diponggo.
Ada dua pintu kamar yang terhubung dengan ruang tamu. Terdapat dipan tanpa kasur di kamar tersebut. ”Kalau kamarnya Pak Tahir, saya kurang tahu. Bisa tidur di mana saja,” ujar ayah tujuh anak itu.
Dinding rumah putih bersih. Tampaknya baru saja dicat. Salim menceritakan bahwa akhir tahun lalu rombongan Korps Marinir melakukan kerja bakti di sana. Mereka mengecat dinding rumah itu. ”Sebelumnya hanya cat kapur. Sudah kotor pula,” ujar Salim yang juga menjadi kepala desa Diponggo.
Ada rencana rumah tersebut bakal dijadikan diorama. Selain itu, ruangan-ruangan yang kosong bisa jadi tempat menginap para tamu yang berkunjung ke Diponggo. Terutama bagi keluarga Marinir yang sering berkunjung.
Di bagian belakang rumah terdapat dapur yang dahulu digunakan keluarga Tahir. Masih memakai tungku kayu. Sementara itu, pintu belakangnya terhubung dengan pekarangan. Tempat itu dahulu menjadi penyimpanan kayu bakar.
Sebagai ahli waris, Salim mempersilakan Korps Marinir untuk memanfaatkan rumah tersebut. Keluarga bakal sangat senang melihat jasa Tahir diabadikan di tempat tinggalnya dulu. Masyarakat Diponggo dan Bawean juga pasti bangga bahwa prajurit gagah berani itu pernah tinggal di tanah yang sama, tanah Bawean. (*/c6/dos)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
