Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Maret 2017 | 04.43 WIB

”Centenarian KW” Suparmi yang Kinyis-Kinyis dalam Umur 107 Tahun

SALAH: Suparmi menunjukkan KTP miliknya. - Image

SALAH: Suparmi menunjukkan KTP miliknya.



Pada 2015, dia mengurus e-KTP. Namun, data pada e-KTP tersebut masih salah. Tanggal lahirnya bukan 27 November 1969. Satu-satunya catatan tanggal lahir yang benar adalah di buku nikah. ”Aku takon (tanya, Red) bapakku. Pak, aku asline lahir kapan, se?” tanya dia kepada bapaknya saat itu. Tanggal yang disebutkan bapaknya itulah yang kini tercantum di buku nikah. Tanggal berapa? Suparmi tidak hafal.



Dia lalu masuk ke kamarnya, mencari buku nikah. Buku itu akhirnya ditemukan. Warnanya sudah tidak hijau lagi. Sudah lebih hitam. Lambang garuda berwarna emas juga sudah terkikis. ”Iki lho tanggal lahirku,” ucapnya kemudian menunjuk baris tanggal lahir. Tertera 20 September 1963. Berarti usianya nyaris 54 tahun. Tapi, Suparmi ragu. Sebab, dia merasa belum berumur 50 tahun.



Lagi-lagi, dia salah. Data yang dia tunjuk ternyata data milik suaminya, Rohman. Tanggal lahir yang benar adalah 27 September 1967. Usianya nyaris 50 tahun.



Karena tanggal di e-KTP nya masih salah, Suparmi seharusnya mengurus perubahan data. Dia belum berencana mengubah data kependudukannya menjadi benar. ”Sebenarnya ingin. Nanti saja kalau ada waktu,” ucapnya.



Di tempat lain, ada yang lebih ekstrem. Supandi, warga Bulak Banteng, tercatat sudah berusia 355 tahun. Atau lebih tua daripada Nabi Ibrahim yang diyakini memiliki usia 200 tahun. Membayangkan usianya kini, dia adalah manusia yang hidup dalam keabadian. Dengan usia itu, dia menyaksikan letusan Gunung Krakatau. Letusan yang membuat dunia gelap gulita akibat tertutup abu vulkanis. Peristiwa pada 1883 tersebut mengacaukan iklim global.



Logikanya, Supandi pasti bisa bercerita tentang monopoli persekutuan dagang asal Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Tapi, Supandi bukanlah Highlander, manusia-manusia abadi dalam kisah folklore Skotlandia. Bukan pula Logan yang akhirnya menjelma sebagai Wolverine. Bukan juga saudara Edward Cullen, vampir di novel Twilight.



Saat didatangi rumahnya di Bulak Banteng Lor I Nomor 152, Supandi sedang tidak berada di rumah. Dia bekerja di Malaysia sebagai buruh bangunan. Jawa Pos hanya menemui anaknya, Sarofah. ”Dulu bapak merekam e-KTP sama saya. Tapi, usianya nggak tiga ratus tahun. Nggak mungkinlah,” jelas perempuan berusia 27 tahun itu.



Dia menceritakan, bapaknya melakukan perekaman data e-KTP di Siola pada 2015. Di KK dan KTP, tanggal lahir ayahnya tertera 10 Januari 1975. ”Mungkin petugase ngantuk,” ujar perempuan yang sudah memiliki dua anak tersebut.



Berdasar data dispendukcapil, terdapat 420 penduduk yang berusia lebih dari 100 tahun. Namun, jumlah tersebut tidak valid. Sebab, saat dicek di lapangan, banyak yang sudah meninggal dunia. Ada yang sudah tiga tahun lalu, ada juga yang baru 40 hari. Keluarga warga yang telah meninggal belum mencatatkan surat kematian. Akibatnya, hingga kini mereka masih tercatat sebagai penduduk Surabaya yang masih hidup.



Kepala Dispendukcapil Surabaya Suharto Wardoyo menerangkan, kesalahan pada data kependudukan bisa disebabkan banyak faktor. Baik faktor kelalaian warga maupun petugas. Dia meminta warga yang salah mencatatkan data di KTP segera merevisi data pribadinya. ”Kalau ada kesalahan, mohon segera melapor ke kecamatan atau dispenduk,” ucap Anang saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu. (*/c6/dos)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore