
SALAH: Suparmi menunjukkan KTP miliknya.
Pada 2015, dia mengurus e-KTP. Namun, data pada e-KTP tersebut masih salah. Tanggal lahirnya bukan 27 November 1969. Satu-satunya catatan tanggal lahir yang benar adalah di buku nikah. ”Aku takon (tanya, Red) bapakku. Pak, aku asline lahir kapan, se?” tanya dia kepada bapaknya saat itu. Tanggal yang disebutkan bapaknya itulah yang kini tercantum di buku nikah. Tanggal berapa? Suparmi tidak hafal.
Dia lalu masuk ke kamarnya, mencari buku nikah. Buku itu akhirnya ditemukan. Warnanya sudah tidak hijau lagi. Sudah lebih hitam. Lambang garuda berwarna emas juga sudah terkikis. ”Iki lho tanggal lahirku,” ucapnya kemudian menunjuk baris tanggal lahir. Tertera 20 September 1963. Berarti usianya nyaris 54 tahun. Tapi, Suparmi ragu. Sebab, dia merasa belum berumur 50 tahun.
Lagi-lagi, dia salah. Data yang dia tunjuk ternyata data milik suaminya, Rohman. Tanggal lahir yang benar adalah 27 September 1967. Usianya nyaris 50 tahun.
Karena tanggal di e-KTP nya masih salah, Suparmi seharusnya mengurus perubahan data. Dia belum berencana mengubah data kependudukannya menjadi benar. ”Sebenarnya ingin. Nanti saja kalau ada waktu,” ucapnya.
Di tempat lain, ada yang lebih ekstrem. Supandi, warga Bulak Banteng, tercatat sudah berusia 355 tahun. Atau lebih tua daripada Nabi Ibrahim yang diyakini memiliki usia 200 tahun. Membayangkan usianya kini, dia adalah manusia yang hidup dalam keabadian. Dengan usia itu, dia menyaksikan letusan Gunung Krakatau. Letusan yang membuat dunia gelap gulita akibat tertutup abu vulkanis. Peristiwa pada 1883 tersebut mengacaukan iklim global.
Logikanya, Supandi pasti bisa bercerita tentang monopoli persekutuan dagang asal Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Tapi, Supandi bukanlah Highlander, manusia-manusia abadi dalam kisah folklore Skotlandia. Bukan pula Logan yang akhirnya menjelma sebagai Wolverine. Bukan juga saudara Edward Cullen, vampir di novel Twilight.
Saat didatangi rumahnya di Bulak Banteng Lor I Nomor 152, Supandi sedang tidak berada di rumah. Dia bekerja di Malaysia sebagai buruh bangunan. Jawa Pos hanya menemui anaknya, Sarofah. ”Dulu bapak merekam e-KTP sama saya. Tapi, usianya nggak tiga ratus tahun. Nggak mungkinlah,” jelas perempuan berusia 27 tahun itu.
Dia menceritakan, bapaknya melakukan perekaman data e-KTP di Siola pada 2015. Di KK dan KTP, tanggal lahir ayahnya tertera 10 Januari 1975. ”Mungkin petugase ngantuk,” ujar perempuan yang sudah memiliki dua anak tersebut.
Berdasar data dispendukcapil, terdapat 420 penduduk yang berusia lebih dari 100 tahun. Namun, jumlah tersebut tidak valid. Sebab, saat dicek di lapangan, banyak yang sudah meninggal dunia. Ada yang sudah tiga tahun lalu, ada juga yang baru 40 hari. Keluarga warga yang telah meninggal belum mencatatkan surat kematian. Akibatnya, hingga kini mereka masih tercatat sebagai penduduk Surabaya yang masih hidup.
Kepala Dispendukcapil Surabaya Suharto Wardoyo menerangkan, kesalahan pada data kependudukan bisa disebabkan banyak faktor. Baik faktor kelalaian warga maupun petugas. Dia meminta warga yang salah mencatatkan data di KTP segera merevisi data pribadinya. ”Kalau ada kesalahan, mohon segera melapor ke kecamatan atau dispenduk,” ucap Anang saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu. (*/c6/dos)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
