
TERBARING LEMAH: Anik Andayani menjalani perawatan di Ruang Bougenville RSUD Sidoarjo, kemarin. Sebelumnya dia dan anaknya, Yusuf, dirawat di RSUD Karanganyar.
Anik Andayani dan M. Yusuf Bachtiar, ibu dan anak, merupakan dua di antara puluhan korban selamat kecelakaan mengerikan bus Solaris Jaya di kawasan Tawangmangu, Karanganyar, pada Minggu (26/2). Firasat aneh terasa sejak berminggu-minggu sebelumnya.
JOS RIZAL
SAAT ditemui di Ruang Bougenville RSUD Sidoarjo, Anik dan Yusuf tampak memejamkan mata. Meski demikian, keduanya tidak tidur. Mereka masih merasa lunglai. Menahan sakit di sekujur tubuhnya. Kondisi Anik lebih parah daripada Yusuf. Berbalut selimut biru, dia menahan nyeri dan napas yang berat. Gerakannya semakin kaku dengan kanan-kiri yang tertanam jarum infus. Sementara itu, Yusuf terbujur lesu tanpa infus. Perban membalut lengan kiri dan luka lecet mewarnai wajahnya.
Sejak Senin sore (27/2), keduanya memang dipindah ke RSUD Sidoarjo atas permintaan pihak keluarga. Sebelumnya, seperti korban selamat lainnya, mereka dirawat di RSUD Karanganyar.
Saat takdir pahit itu terjadi, Anik duduk tepat di belakang mendiang Suwandi, kepala SDN Jimbaran Wetan yang akan dimutasi ke SDN Jimbaran Kulon. Dia duduk bersama Sofiana. Begitu bus terlempar ke jurang, badan Anik ikut tersentak ke depan. Kepala dan dadanya berbenturan dengan kursi. Dadanya seakan ditimpa beban yang berat. Seketika itu juga, dia muntah-muntah dengan tarikan napas yang berat. Kepalanya pening. Dia pun tak sadarkan diri.
’’Terus saya ditarik anak saya. Saya pun keluar dari bus yang nyungsep itu. Napas saya masih berat sampai sekarang,’’ kisah Anik Selasa (28/2). Sebagian bola mata Anik tampak memerah. Bukan karena terus menangis, tetapi sepertinya efek benturan. Dahi dan kepalanya masih bengkak. Beberapa goresan luka juga terlihat di pelipis matanya.
Anik hemat berbicara. Maklum, slang oksigen masih menempel di hidungnya. Bicaranya terbata-bata. Pernapasannya belum pulih betul, dia juga kerap muntah-muntah dan mengeluhkan linu di punggung dan dadanya.
Lain cerita dengan Yusuf, putra sulung Anik. Saat kejadian, dia duduk di bangku paling belakang. Dia menderita luka lecet di pipi kiri. Tangan dan kakinya juga terluka. ’’Seperti naik ombak banyu (wahana permainan ombak banyu, Red), tapi sakit,’’ kisah pria 37 tahun itu. Sesaat sebelum kejadian, Yusuf selalu terjaga. Bahkan, ketika berada di penginapan, dia merasa tidurnya sudah tidak nyaman. ’’Saya nggak tahu kenapa, tapi yang jelas saya ngerasa ada yang nggak enak,’’ tutur Yusuf.
Sesaat setelah bus lepas dari areal parkir Telaga Sarangan, dia merasakan sesuatu yang aneh. Bus melaju dengan kecepatan yang kerap berubah. Karena itu, Yusuf kerap duduk terpental dan merasa tak nyaman. Tidak seperti kecepatan sebelumnya yang membuat para penumpang nyaman duduk di bangku.
Puncaknya, sesaat setelah melewati tanjakan, seluruh penumpang merasakan entakan atau dorongan ke depan. Badan Yusuf pun nyaris bertabrakan dengan kursi di depannya. Sejurus kemudian, laju bus sudah tak menentu dan terdengar teriakan blong dari penumpang. ’’Sempet ada yang teriak ’rem blong’. Habis gitu bus langsung masuk jurang,’’ jelasnya.
Dia berusaha berpegangan dan meraih apa pun yang ada di dekatnya agar tidak terpelanting. Lalu, dia mendengar benturan keras pertanda moncong bus menabrak bebatuan. Begitu bangun, dia melihat banyak penumpang yang sudah terkapar di lantai bus. Beberapa penumpang merintih kesakitan, sedangkan yang lain tidak sadarkan diri.
Yusuf kemudian berjalan sempoyongan di atas lantai yang dipenuhi kepingan kaca demi meraih ibunya (Anik). Penglihatannya saat itu berkunang-kunang. Dia terus berupaya menuju kursi Anik dan membawanya keluar bus. Saat berupaya mengeluarkan Anik yang masih setengah tak sadar, warga datang menolongnya. ’’Sampai sekarang kalau melakukan gerak yang cepat, mata saya berkunang-kunang,’’ ujar Yusuf sembari mengernyitkan dahi. Mencoba memandang ke banyak sudut di ruang perawatan.
Dia juga masih ingat betul suasana ketika kejadian. Semua orang yang duduk paling depan mengalami luka berat. Beberapa di antara mereka bahkan meregang nyawa. Misalnya, Suwandi, Ica Susilawati, dan Ria Resbara yang duduk paling depan. Dia hanya heran, sopir justru hanya mengalami luka ringan. ’’Mungkin dia loncat. Soalnya, sebelum masuk jurang, banyak teriakan rem blong,’’ lanjutnya.
Yusuf menjelaskan, seharusnya dirinya dan sang ibu tidak diperkenankan pindah rumah sakit. Sebab, keduanya mengalami luka berat. Khususnya luka yang diderita ibunya. Anik seharusnya menjalani perawatan khusus. Namun, atas desakan keluarga, dokter di RSUD Karanganyar akhirnya mengizinkan. Saat tiba di RSUD Sidoarjo Senin sore, Yusuf mengatakan masih trauma. Terutama ketika melihat aspal dan jalan berbelok. ’’Saya masih takut lihat aspal,’’ lanjutnya, dengan wajah datar.
Yusuf dan Anik sama-sama tenaga pengajar di SDN Jimbaran Wetan. Sesaat sebelum kejadian, keduanya merasakan sesuatu yang aneh. Terlebih pada sikap Suwandi. Menurut Yusuf, Suwandi kerap memberi makan tenaga pengajar dan staf lain di sekolah. Dia kerap mentraktir makan rekan-rekannya. Hal itu begitu sering dilakukan. Terlebih dalam tiga minggu terakhir sebelum kejadian. Semua pedagang asongan yang lewat sekolah dipanggilnya. Pedagang tersebut kemudian dibayar untuk memberikan makanan yang dijajakannya kepada guru-guru. ’’Kalau nggak, kami semua diajak makan ke beberapa rumah makan terkenal,’’ papar Yusuf.

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Tak Ada Timnas Indonesia U-17! Klasemen Runner-up Terbaik Piala AFF U-17 2026 Usai Thailand Dikalahkan Laos
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
