
APRESIASI: Mahfud Ikhwan saat menyampaikan sepakat kata ketika novelnya Dawuk dinobatkan sebagai pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.
Mahfud Ikhwan menulis Dawuk dengan semangat suka-suka berdasar kegemaran dirinya pada cerita pendekar, ludruk, dangdut, film, dan musik India serta tradisi marung. Terbantu cerita seorang kawan tentang berandal di desanya.
DIAR CANDRA, Surabaya
JANGAN pernah menyepelekan inspirasi dari sebuah sudut warung kopi. Riuh pengunjung, denting gelas beradu, sampai gesekan plastik kacang.
Dawuk, karya keempat Mahfud Ikhwan yang Rabu malam lalu (25/10) memenangi penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), lahir dari atmosfer seperti itu. ”Jadi, Dawuk ini upaya main-main dari kesukaan saya pada cerita pendekar, ludruk, dangdut, film, dan musik India serta tradisi marung di warkop,” kata Mahfud ketika dihubungi kemarin (27/10).
Dawuk memenangi kategori prosa. Sedangkan Kiki Sulistyo dengan Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari? berjaya di sektor puisi. Adapun Nunuk Y. Kusmiana terpilih di kategori penulis karya perdana/kedua lewat Lengking Burung Kasuari.
”Dawuk berhasil memotret dengan pas kehidupan masyarakat di pinggir hutan yang ada di kawasan pantura (pantai utara) Jawa. Ada balutan kisah silat, humor, dan roman yang sukses memberikan kritik sosial,” kata Ronny Agustinus, pemimpin redaksi Marjin Kiri, penerbit Dawuk.
Novel tentang kisah cinta ganjil mirip Beauty and The Beast itu memang mengambil latar tempat pada sebuah desa di tepi hutan yang ada di kawasan pantura Jawa. Mat Dawuk yang buruk rupa menjalin kasih dengan Inayatun, si bunga desa yang genit. Dengan Warto Kemplung sebagai narator utama. Latar waktunya maju mundur. Dari era setelah kemerdekaan sampai sekarang.
Menurut Mahfud yang telah pula melahirkan buku Aku dan Film India Melawan Dunia, rangkaian penulisan Dawuk tak sampai dua tahun. Antara November 2014 sampai Agustus 2016. Periode tersingkat dibanding kelahiran dua novel lainnya, Ulid serta Kambing dan Hujan.
Prosesnya pun, lanjut penulis kelahiran Lamongan itu, lebih suka-suka. Cair dan menyenangkan. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada tersebut menghabiskan banyak waktunya dengan marung di Blandongan, sebuah warkop di Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul. Semuanya di Jogjakarta.
Sedari awal Mahfud juga sudah menargetkan Dawuk bakal tak setebal Ulid serta Kambing dan Hujan. Kalau di Ulid tebal halaman mencapai 500, lalu Kambing dan Hujan sekitar 300, Dawuk lahir hanya dengan 100 halaman.
Irfan Afifi, salah seorang kawan nongkrong Mahfud di Blandongan, membenarkan soal perbedaan perlakuan Mahfud pada novel-novelnya. Ulid prosesnya paling menyendiri. Tak pernah diperlihatkan kepada kawan-kawannya. ”Saya termasuk sedikit kawan yang ditunjukkan naskah awal Kambing dan Hujan, juga Dawuk. Saya diminta memberikan masukan dan kritik mengenai keduanya,” ungkap alumnus UIN Sunan Kalijaga itu kemarin.
Irfan menambahkan, ketika mematangkan ide kisah Dawuk, dirinya sempat bercerita kepada Mahfud tentang adanya sosok yang mirip tokoh utama Mat Dawuk di desanya. Namun, sosok pemuda tersebut jauh lebih berandal. ”Ketika Dawuk selesai, Mahfud mengucapkan terima kasih karena kisah pemuda berandal di desa saya itu. Rupanya itu memberikan pencerahan baginya,” ujarnya.
Dawuk juga dilahirkan lewat tulisan tangan Mahfud. Tidak diketik lebih dahulu. Baru setelah kisah rampung, Mahfud memindahkannya ke komputer. Buku yang digunakan Mahfud pun sangat klasik. Bersampul batik warna cokelat. ”Kenapa perlakuan novel ini terasa sangat bergaya lama? Karena Dawuk adalah kisah lama yang dituturkan kembali sehingga metode lama ini membuat tulisan lebih punya jiwa buat saya,” ungkap Mahfud.
Di antara ketiga novelnya, proses penulisan Ulid yang bercerita tentang keluarga transmigrasi merupakan yang paling berat. Sebab, Mahfud masih bekerja kantoran ketika itu. Otomatis tak punya banyak waktu marung. Kadang tengah malam atau ketika waktu kerja longgar, dia baru menulis. Tak heran jika butuh waktu enam tahun buat merampungkan Ulid.
”Mungkin karena novel pertama, saya tak membaginya kepada siapa pun. Kemudian proses nulis juga campur-campur, kadang diketik di komputer, tapi kadang juga di buku,” terang Mahfud.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
