Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Agustus 2017 | 03.14 WIB

Kuliah Teknik Sipil Tak Tuntas gara-gara Perang

TETAP PRODUKTIF: Akhtar Rod sedang melukis di ruang belajar Aparna Jemundo. Beberapa karya miliknya dan anak didiknya sesama imigran menghiasi dinding. - Image

TETAP PRODUKTIF: Akhtar Rod sedang melukis di ruang belajar Aparna Jemundo. Beberapa karya miliknya dan anak didiknya sesama imigran menghiasi dinding.

Lebih dari 300 imigran kini ditampung di Aparna Jemudo. Akhtar salah satunya. Imigran asal Afghanistan itu jago melukis. Bahkan, dia ditunjuk sebagai mentor bagi imigran lain yang ingin belajar menuangkan ide di atas kanvas.


JOS RIZAL, Sidoarjo


ADA yang berbeda di ruang kantor Apartemen Sederhana (Aparna) Jemundo di kompleks Puspa Agro, Taman, sejak Senin (14/8). Lukisan yang memotret keindahan alam hutan tropis tergantung di salah satu sudut dinding. Tampak sepasang kekasih berjalan di atas dermaga. Hadirnya lukisan tersebut membuat suasana ruang kantor yang dipenuhi tumpukan berkas itu terasa sedikit lebih ”nyeni”.


Menurut Akhtar Rod, sang pelukis, sepasang kekasih tersebut sedang mengarah pada suatu tempat yang menenangkan hati. Sejuk dan mendamaikan. Jauh dari ledakan bom, desing peluru, dan konflik. ”Sisanya biar orang lain yang memutuskan makna gambar itu,” kata Akhtar dalam bahasa Inggris.


Sudah 18 bulan lamanya imigran asal Afghanistan itu tinggal di Aparna Jemundo. Namun, dia sebenarnya menginjakkan kaki di Indonesia sejak awal 2015. Sebelumnya, pria 31 tahun itu tinggal di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Bangil.


Selama berada di penampungan, Akhtar berinisiatif menjadi mentor. Dengan berperilaku baik dan berprestasi itu, dia berharap bisa secepatnya menggapai ”daratan impian”. Yakni, negara kaya atau negeri persemakmuran yang mau menampung imigran. Salah satunya Australia.


Dari ruang kantor, Akhtar mengajak Jawa Pos menuju ruang belajar di gedung tower B. Tower itu berada di sebelah tower A, tempat ruang kantor aparna berada. Ramadhan Syahputra, manajer operasional bapel Aparna Jemundo, ikut menemani.


Sesekali Akhtar menyisir rambut cokelatnya dengan tangan sembari menunjukkan karya-karyanya yang ditempel di dinding. Dia juga membuka laci yang penuh dengan pensil, kertas gambar, dan kanvas.


Ruangan serbaputih itu sejatinya merupakan pusat kegiatan pembelajaran bagi imigran. Mulai kelas bahasa Inggris, sastra Prancis, sampai bahasa Indonesia. Ada juga kelas menggambar. Semua sudah dijadwal. Akhtar dipercaya sebagai mentor seni melukis. Dua kali dalam seminggu dia mengajari 22 imigran lain dari berbagai negara. Tepatnya setiap Minggu dan Senin.


Karya puluhan pelukis bimbingan Aktar itu sudah dipamerkan dalam peringatan Hari Pemuda Internasional atau International Youth Day di Aparna Jemundo Senin (14/8). Itu merupakan kali pertama event tersebut digelar di Aparna Jemundo. Sebelumnya hanya diselenggarakan di kantor Rudenim Bangil.


Dalam kegiatan itu, para imigran di Aparna Jemundo ikut berpartisipasi. Mereka menampilkan kesenian dari negara masing-masing. Misalnya, menyanyi, menari, atau fashion show. Beberapa dilombakan. Yakni, memasak dan melukis. Tidak ada hadiah resmi. Hanya apresiasi dari dewan juri. Tapi, itu sudah cukup membuat mereka bergembira.


Bahkan, beberapa lukisan diberikan kepada tamu undangan yang hadir sebagai cenderamata. Salah satu lukisan yang dibuat Akhtar diminta secara khusus oleh manajemen aparna untuk menghiasi dinding kantor.


Akhtar datang dari keluarga sederhana. Dia mendaftarkan diri di salah satu universitas negeri di Kabul sebagai mahasiswa teknik sipil sekitar 10 tahun lalu. Namun, baru dua tahun kuliah, dia mengundurkan diri dan memilih bekerja. Desakan ekonomi dan perang yang berkecamuk membuatnya hidup dalam keadaan yang serbasederhana.


Meski berhenti dari kampusnya, Akhtar tidak pernah berhenti menggambar. Dia menuangkan beragam fenomena sosial ke atas kanvas. Beberapa karyanya sempat dipotret dan tersimpan di HP. Menurut Akhtar, dia juga dipercaya untuk menggambar tembok beberapa bangunan milik pemerintah di Afghanistan.


Istri, kedua anak, dan kakak lelakinya hingga kini masih tinggal di Ghazni. Sebuah daerah yang dapat ditempuh dengan dua jam berkendara dari Kabul, ibu kota Afghanistan. Kepergiannya sebagai imigran diketahui keluarganya. Dia ingin menjadi imigran di Australia karena bekerja sebagai sukarelawan tidak mendatangkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perang yang menjadi-jadi juga memperkuat niatnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore