
TENTANG KOPI: Piter Tan (Kiri) bersama muridnya Nyonyo Lanni (kanan) asal Wamena. Tampak Piter memberikan materi tentang pengolahan kopi di ruangan sekolah barista milik Piter yang ada di Jayapura.
Piter Tan mendidik anak-anak muda Wamena bergelut dengan kopi agar kualitas kopi di sana bisa terjaga. Terharu dengan loyalitas petani Wamena kepada dirinya.
FERLYNDA PUTRI, Jayapura
NONYO Lanni begitu bangga mengenakan apron. Merasa seolah seperti kesatria dengan baju besinya. Yang begitu gagah karena baru saja memenangi pertarungan. ’’Saya sudah bisa bikin kopi,’’ tuturnya mantap.
Meracik kopi. Menjadi barista sehebat mungkin. Itulah pertarungan sehari-hari yang harus dihadapi pemuda dari Distrik Walesi, Wamena, tersebut di Pit’s Corner.
Di coffee shop di Jayapura milik Piter Tan itulah Nonyo tinggal. Tiap pulang sekolah, di tempat itu pula dia akan belajar meracik kopi.
Piter membebaskan seluruh biaya tempat tinggal dan rumah. Bahkan, tiket untuk pulang-pergi ke Wamena ditanggung Q Grader dari Coffee Quality Institute itu.
Syaratnya, Nonyo harus serius belajar. Baik di sekolah formal maupun sekolah kopi. Sebab, lewat anak-anak muda seperti Nonyo-lah Piter berharap kelestarian ’’harta karun’’ Wamena bisa terjaga.
***
Semua berawal dari pertanyaan yang lama mengganggu Piter: Mengapa harus menggunakan kopi dari luar Papua?
Piter berasal dari keluarga yang memiliki perusahaan kopi di Jayapura. Tapi, sejak awal hingga perusahaan berkembang pesat, sang ayah selalu menggunakan kopi dari Jawa.
Pertanyaan tadi akhirnya membawa Piter untuk kali pertama ke Wamena sepuluh tahun silam. Sebab, dia mendengar ibu kota Kabupaten Jayawijaya tersebut dikenal sebagai sentra kopi.
Tapi, apa yang ditemukan di sana mengagetkannya. Biji kopi seperti tak ada harganya. Ada yang busuk, berjamur, dimakan serangga, dan hanya sedikit yang layak. Itu semua terjadi karena kebun kopi dibiarkan berantakan oleh petani.
’’Maklum, ketika itu, panen kopi satu tahun satu kali dan hasilnya, satu kilo kopi tak cukup untuk membeli satu kilo gula,’’ tuturnya kepada Jawa Pos pada pertengahan Agustus lalu.
Piter akhirnya mulai mendekati para petani. Dia menjanjikan membeli semua hasil kopi mereka asal mau merawat. ’’Para petani awalnya tidak percaya. Sebab, sebelumnya ada yang bilang seperti itu tapi tidak jadi membeli,’’ ujarnya.
Piter membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan para petani Wamena. Sampai kemudian, tibalah panen pada tahun pertama setelah Piter mengucapkan janji tadi.
Piter menepati janjinya. Dia membeli kopi para petani. Harganya bahkan dinaikkan lima kali. ’’Ketika itu harga kopi masih Rp 9.000, saya beli Rp 45.000,’’ bebernya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
