Logo JawaPos
Author avatar - Image
02 September 2017, 03.08 WIB

Para Pencinta dan Pembudi Daya Leopard Gecko

CINTA: Giovanni Putra menunjukan beberapa koleksi gecko kesayanganya. - Image

CINTA: Giovanni Putra menunjukan beberapa koleksi gecko kesayanganya.

Leopard gecko memang memikat. Melihatnya, orang bisa langsung jatuh hati. Bisa juga langsung geli. Beberapa orang Surabaya menjadi penggemar sekaligus pembudi daya reptil tersebut.


GALIH ADI PRASETYO, Surabaya


’’MAAF, tempatnya berantakan,” ujar Giovanni Putra, Selasa (29/8). Ruang yang disebutnya berantakan itu berukuran 3 x 5 meter di dalam rumah Gio, sapaan Giovanni, di kawasan Jalan Donowati, Sukomanunggal, Surabaya.


Boleh jadi, ungkapan berantakan itu diamini sebagian orang. Sebab, tumpukan boks plastik memenuhi sekujur sisi ruangan. Ukurannya beragam. Ada yang 15 x 20 sentimeter. Ada juga yang berukuran 20 x 30 sentimeter.


Boks plastik tersebut tidak berisi kue atau semacamnya. Boks yang jumlahnya mencapai 300 lebih itu berisi leopard gecko. Orang awam bisa jadi akan menyebutnya sebagai tokek.


Secara fisik, mereka memang mirip. Padahal berbeda. Tokek dan leopard gecko sama-sama berasal dari keluarga gecko. Tapi, spesiesnya berbeda.


Tokek rumahan yang berbunyi otok-otok-otok tekek itu adalah tokay gecko. Warnanya cenderung abu-abu dengan totol-totol hitam, oranye, atau warna lain. Mereka galak. Kalau diganggu, mereka bisa menggigit.


Sementara itu, leopard gecko punya warna dan motif lebih cantik. Beragam. Kulitnya kasar. Ada semacam benjolan kecil merata di atas tubuhnya. Ekornya sedikit menggembung.


Dan, binatang itu lebih jinak. Kalau dipegang, dia pasrah. Beda dengan tokek yang langsung menyerang kalau diganggu. ’’Makanya, banyak yang suka leopard gecko sebagai hewan peliharaan,” ujar Gio.


Di habitat aslinya, kawasan Pakistan, India, atau Iran, leopard gecko hidup di bawah bebatuan. Pemalu dan cenderung takut saat melihat orang. ’’Cenderung lari dan menghindar. Tapi, kalau sudah sering dipegang, ya nggak lari,” ujar pria 21 tahun itu.


Kini leopard gecko menjadi pilihan hewan peliharaan yang sedang digandrungi. Termasuk di Surabaya. Sebab, selain warnanya bercorak dan cantik, perawatannya mudah. Tak perlu bikin kandang bagus. Boks plastik sudah cukup. Tinggal diberi lubang ventilasi secukupnya dari semua sisi.


Alas kotak harus diberi bubuk kalsium untuk meredam bau. Bubuk itu juga aman kalau termakan gecko. ’’Makannya, cukup jangkrik atau ulat kecil,” ujarnya. Itu pun tak setiap hari. Cukup 2–3 hari sekali. Begitu juga minumnya, cukup beri wadah kecil di dalam kotak.


Bahkan, menurut Gio, tanpa makan dan minum, seekor gecko bisa bertahan hingga dua bulan. Karena itu, gecko bisa menjadi pilihan bagus bagi orang yang merawat hewan peliharaan sesempatnya.


Contohnya, Gio. Pagi hingga sore, bahkan sampai malam, dia kuliah. Kalau setiap hari merawat hewan, dia akan kehabisan waktu. ’’Makanya, ngerawat gecko ini bisa santai,” kata mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Kristen Petra tersebut.


Jika tidak ada makanan, seekor leopard gecko akan memutuskan ekornya untuk dimakan. Sama dengan golongan gecko lain, ekor yang putus bisa tumbuh lagi. ’’Tapi, tidak bisa sama seperti awal. Pasti berbeda. Ekornya jadi mulus, tidak kasar lagi,” ujarnya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore