Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Februari 2018 | 22.41 WIB

Beratnya Jadi Pejabat Hingga Pernah Menolak Beasiswa BJ Habibie

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar - Image

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar

Jawapos.com - Kemunculan Arcandra Tahar dalam peta politik Indonesia cukup mengagetkan banyak pihak. Banyak kalangan terkaget-kaget saat Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Minetal pada Juli 2016 lalu. Saat itu, Jokowi melakukan perombakan kabinet yang ketiga kalinya. Arcandra menggantikan posisi Menteri ESDM sebelumnya, Sudirman Said.


Uji Sukma Medianti


Perjalanan karir Arcandra yang melesat di negeri sendiri tak semulus perjalanan karirnya di negeri orang. Belum genap sebulan ia menjabat sebagai menteri, pria asal Padang ini harus menelan pil pahit lantaran dituding memiliki kewarganegaraan ganda.


Arcandra memiliki paspor Amerika Serikat. Akhirnya, Jokowi yang memintanya pulang harus mendepak Arcandra dari kursi kabinet pada Agustus 2016. Meskipun turun 'tahta', Jokowi menunjuk Arcandra sebagai Wakil Menteri ESDM mendampingi Ignasius Jonan yang sempat dipecat sebagai Menteri Perhubungan pada reshuffle jilid II.


Dalam sebuah kesempatan Arcandra mengaku kepada wartawan, bahwa menjadi pejabat publik barangkali bukan impian yang ia inginkan sejak kecil.


"Berat," kata dia, Jum'at (23/2) di Kementerian ESDM, Jakarta.


Dia mengaku kesulitan saat harus menahan amarah. Kadang-kadang Arcandra kerap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya sudah diketahui jawabannya. Tetapi ia mengambil sisi positifnya. Dengan begitu, maka ada niat untuk menguji kesabaran.


Namun ada hal lain yang lebih berat, yaitu konsisten. Yakni konsisten untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.


"Yang berat lainnya adalah konsisten. Konsisten mengatakan yang benar (itu) benar. Dan yang salah (itu) salah," tuturnya.


Pria berumur 47 tahun ini mengaku mengidolai Bung Karno dan Bung Hatta. Alasannya adalah walaupun keduanya kerap berbeda pendapat tetapi bisa berdiskusi dan saling mengisi.


Arcandra juga mengaku mengidolai tokoh Buya Hamka. Menurutnya, Hamka adalah sosok yang berani mengatakan kebenaran dan berani pula menanggung risikonya. "Hamka pernah di penjara, tetapi Hamka mau ikut mensholatkan orang yang memenjarakan dia. Jadi dia sangat pemaaf sekali," tuturnya.


Pernah Menolak Beasiswa BJ Habibie


Sebelum melanjutkan kuliah sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1989. Arcandra bercerita bahwa dirinya pernah mendaftar beasiswa dari Yayasan BJ Habibie. Saat itu, Arcandra mengikuti rangkaian tes dari awal hingga akhir dan diterima.


Namun, Arcandra tak diizinkan oleh ibunya melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat dan akhirnya memilih untuk melanjutkan studi di ITB.


Beberapa tahun kemudian, setelah lulus dari ITB ia berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi S2 di Texas A&M University.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore