JawaPos Radar

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak di Gunung Rinjani (1)

Turun Helikopter Harti Tegar, Erlin Nangis

01/08/2018, 18:35 WIB | Editor: Ilham Safutra
Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak di Gunung Rinjani (1)
Salah satu korban gempa, Suharti, langsung dibawa ke tenda kesehatan begitu tiba di lapangan Sembalun, Lombok Timur, Selasa (31/7). (Ivan/Lombok Pos/Jawa Pos Group)
Share this

Ketika gempa 4,6 skala Richter mengguncang bumi Nusa Tenggara Barat (NTB), ratusan pendaki berada di Gunung Rinjani. Mereka pun terjebak di gunung yang masih aktif itu.

SAHRUL YUNIZAR, Lombok Timur

---

MINGGU pagi (29/7) M. Barep Gandaria belum lama bangun dari tidur Dia kemudian menyeduh air, membuat kopi ke dalam cangkir sambil menahan pening kepala. Bagi pemuda yang akrab dipanggil Em itu, minum kopi adalah cara terbaik menghangatkan tubuh. Apalagi, saat itu dia tengah berada di sekitar bibir kaldera Gunung Rinjani, Danau Segara Anak. Hawa dingin menusuk tulangnya.

Namun, belum habis kopinya, Em dibuat kaget. Gempa cukup keras mengguncang tanah yang dia injak. Tubuhnya limbung. Tanah bergetar. Bahkan, tebing-tebing di sekitar Sagara Anak longsor.

''Mengerikan. Gempanya sangat kuat. Saya hampir jatuh,'' ujar Em menceritakan pengalaman yang tak terlupakan berada di Gunung Rinjani saat gempa hebat melanda Pulau Lombok, NTB, itu. Kemarin (31/7) Em ditemui Jawa Pos di base camp pendaki di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur. Base camp itu terletak di dekat kantor Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), pintu masuk jalur pendakian dari Sembalun.

''Saat itu pandangan saya langsung tertuju ke jalur pendakian ke puncak Rinjani. Sebab, teman-teman saya muncak (menuju ke puncak, Red). Saya tidak ikut naik karena kepala saya pusing,'' tuturnya.

Em mengaku panik dan khawatir bukan main melihat dari kejauhan longsoran bebatuan di jalur pendakian yang dilintasi teman-temannya dari Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Bandung. Sadar dalam kondisi terancam, Em lantas membereskan semua perlengkapan pendakian, kemudian menunggu teman-temannya turun.

Selama menunggu, dia terus berdoa. Yang dia pikirkan saat itu bisa segera berkumpul dengan tiga temannya dari Bandung, kemudian turun. Kembali ke Sembalun. Maka, begitu teman-temannya berhasil turun dari jalur ke puncak, Em dan kawan-kawan langsung bergegas ke bawah.

Pengalaman yang tidak jauh berbeda dirasakan Kapusdiklat LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) Suharti. Dia mendaki ditemani 2 staf, 2 porter, dan 1 guide. Dia bermaksud berlibur di sela-sela tugas yang menguras pikiran.

Harti -begitu dia biasa dipanggil- mendaki gunung berketinggian 3.726 mdpl itu sejak Jumat (27/7). Dari Sembalun, dia menjelajahi jalur pendakian Rinjani hingga Danau Segara Anak, lalu turun lewat Senaru, jalur pendakian lain yang berada di Desa Bayan, Lombok Utara. Rencananya, setelah menginap di Danau Segara Anak, Minggu (29/7) Harti sudah harus terbang ke Bali. "Karena Senin pagi saya ada acara di Bali," tuturnya.

Namun, apa daya, gempa tektonik yang mengguncang Lombok mengubah agenda acara Harti. Belum sempat turun, dia bersama rombongan malah terjebak di tengah perjalanan. Bahkan, Harti dan rombongan menjadi kelompok pendaki terakhir yang kemarin siang berhasil dievakuasi tim penyelamat gabungan. Itu pun tidak melalui jalur Sanaru seperti rencana semula, melainkan lewat jalur Sembalun.

Dramatisnya lagi, mereka harus dievakuasi dengan menggunakan helikopter karena jalur yang dilalui cukup berat bila lewat darat. Maka, dari rencana Harti mendaki selama tiga hari dua malam menjadi lima hari empat malam. Bahkan, jalur yang dirasakannya tiga hari terakhir sangat berat. Tidak heran, begitu turun dari helikopter di lapangan base camp, Harti langsung sujud syukur.

Wajahnya masih terlihat pucat kelelahan. Tubuhnya lemas. Tapi, dia mengaku tidak apa-apa. ''Saya kuat, saya kuat," imbuhnya sambil menolak dipapah petugas.

Dari helikopter, Harti berjalan pelan menuju posko kesehatan. Tidak banyak yang keluar dari mulutnya. Tapi, begitu memandang Erlin Halimatussadiyah, stafnya yang ikut dalam pendakian, Harti langsung memeluk dengan erat. Keduanya juga menangis, terharu.

Erlin memang tampak shock. Dia tidak henti menangis. Setiap kali mengingat guncangan gempa yang dia rasakan, Erlin langsung menangis. Apalagi melihat para pendaki lain yang panik dan berteriak ketakutan. Erlin ikut histeris. 

(*/c10/ari)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up