
ILKAY GUNDOGAN (Jerman) - DOMINIK SZOBOSZLAI (Hungaria).
JawaPos.com – Ada satu hal yang hilang dari tim nasional (timnas) Jerman dalam sedekade terakhir: mentalitas sebagai tim besar.
Itu terlihat dari hasil yang diperoleh di empat edisi turnamen mayor setelah Die Mannschaft menjuarai Piala Dunia 2014.
Di dua edisi Piala Dunia terakhir, Die Mannschaft tersingkir di fase grup. Pada Euro 2016, Jerman hanya sampai semifinal. Sedangkan pada Euro 2020, mereka malah sudah terhenti di 16 besar.
Di Euro 2024 yang mereka tuan rumahi, Die Mannschaft memang tampil meyakinkan dalam laga pembuka. Skotlandia disikat 1-5. Tapi, ujian kembali datang malam nanti saat tim asuhan Julian Nagelsmann itu menghadapi Hungaria dalam laga kedua grup A di Stadion Mercedes-Benz Arena, Stuttgart.
"Jerman jauh lebih baik di turnamen kali ini. Sebab, mereka baru saja melakoni latihan ala militer bersama special force (pasukan khusus)-nya Jerman," kata mantan pelatih Persema Malang dan Persiba Balikpapan Timo Scheunemann kepada Jawa Pos yang menghubunginya dari Surabaya (16/6).
Latihan tersebut, kata Timo yang berdarah Jerman itu, mengembalikan Jerman ke setelan awal: bersatu sebagai tim. "Selama ini kelebihan Jerman memang kesatuan dan kekompakan timnya," lanjut pelatih 50 tahun tersebut.
Dulu ada anggapan Jerman adalah Panser, meski sebutan atau asumsi itu tak disukai kalangan sepak bola negeri yang beribu kota di Berlin itu. Padahal, tak sepenuhnya negatif sebenarnya karena menunjukkan karakter Jerman yang disiplin dan pantang menyerah.
Melempemnya Jerman dalam empat edisi turnamen mayor setelah Piala Dunia 2014 dan sebelum Euro 2024, menurut Timo, karena skuadnya terpecah belah. Penyebabnya, ada beberapa faktor. "Bukan karena ras atau apa. Tapi, tim ada problem soal LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) dan masalah politik yang membelah tim," ungkapnya.
Dan, perpecahan dalam tim itu langsung hilang setelah latihan bersama pasukan khusus militer Jerman selama sepekan. Timo melihat tim sudah sangat bersatu. "Sama seperti tahun 2014 lalu," sebutnya.
Menurut Timo, bersatunya tim itu tidak lepas dari peran Rudi Voller. Pelatih Die Mannschaft dalam Piala Dunia 2002 yang kini menjabat direktur timnas Jerman itu memang punya target pribadi. ’’Beliau ingin mengembalikan karakter Deutsche Tugenden. Yakni karakter khas Jerman yang tegas, disiplin, jujur, dan mau bekerja sama,’’ kata Timo.
Karakter itu sudah terlihat dalam laga melawan Skotlandia (15/6). Catatan statistik menunjukkan, pada babak pertama laga pembuka Euro 2024 itu, hanya ada satu umpan meleset dari total 112 operan yang dilakukan para penggawa Doe Mannschaft. (gus/c17/ttg)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
