Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 12 Oktober 2019 | 07.07 WIB

Wolftank Perangi Polusi Udara Lewat Musik

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Satu lagi band anyar yang beranggotakan musisi lawas kembali hadir di Tanah Air. Tyo Nugros (eks Dewa), Ariyo Wahab (The Dance Company), Kin Aulia (The Fly), dan Noey (Java Jive) membentuk band bernama Wolftank.

Punya misi mengajak para pendengarnya memelihara lingkungan, Wolftank menginisiasi sebuah konser bertajuk 'I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation'. Konser yang rencananya berlangsung di Hard Rock Cafe Jakarta pada 28 Oktober mendatang itu digagas untuk menggalang dana yang kemudian disalurkan dan dikelola Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

“Alam seringkali menjadi inspirasi dalam berkarya. Kami pun percaya, musik dan kegiatan konservasi dapat berkolaborasi untuk menginspirasi dan mengajak semakin banyak lagi orang terlibat, berkontribusi langsung melestarikan bumi,” ungkap Ariyo yang menjadi vokalis di band ini, (11/10).

Mengusung genre pop rock dengan target kalangan milenial, Ariyo menuturkan bahwa Wolftank ingin bisa menggugah hati para pendengarnya untuk lebih sadar memelihara alam. "Kita punya power. Punya anak cucu. Alam punya power sembuhkan diri. Cepat atau lambat suka atau nggak suka, dampak (kerusakan, Red) pasti akan datang. Untuk para milenial, jangan sedih. Ini bukan dosa dan salah kamu. Justru kamu adalah generasi terpilih untuk menjaga dan sembuhkan bumi Indonesia," tegas Ariyo.

Setiap pembelian satu tiket konser tersebut selanjutnya akan digunakan YKAN untuk mendanai penanaman satu bibit mangrove di Hutan Angke Kapuk yang akan dilaksanakan pada November mendatang. Kolaborasi ini terjalin sebagai respons terhadap buruknya kualitas udara Jakarta.

Head of Nature & People Partnership YKAN Sally Kailola menjelaskan ajang 'I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation' menjadi upaya untuk menyadarkan masyarakat luas akan pentingnya ekosistem mangrove bagi kawasan pesisir maupun perkotaan. Sejatinya, setiap individu dapat melakukan perubahan.

“Saat ini kita tengah menghadapi tantangan krisis iklim terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Laju pemanasan global kian cepat akibat pelepasan emisi gas rumah kaca yang terus berlangsung. Wilayah perkotaan pun menghadapi isu yang hampir seragam seperti kualitas udara yang buruk, pulau panas perkotaan (urban heat island), serta kelangkaan air bersih dan sumber pangan,” ujar Sally.

Sayangnya, meski punya kemampuan menyerap karbon 3-5 kali lebih besar dari hutan tropis, hutan mangrove di Indonesia terus tergerus. Perubahan areal lahan mangrove untuk kebutuhan budidaya perikanan dan permukiman menjadi penyebab utama luas hutan mangrove terus berkurang.

Berdasarkan data dari Airvisual.com, Jakarta kembali bertengger di peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Melansir riset dari The Nature Conservancy yang dilakukan pada 2016, salah satu solusi untuk menciptakan kota yang sehat adalah dengan memanfaatkan infrastruktur alami. Dalam hal ini, hutan mangrove menjadi salah satu infrastruktur alami dengan kemampuannya menyerap karbon hingga 1.000 ton per hektar.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore