
Cuplikan adegan dalam fil The Odyssey karya Christopher Nolan. (The Guardian)
JawaPos.com — Film The Odyssey karya Christopher Nolan tidak lagi sekadar menjadi salah satu tontonan terbesar musim panas ini. Adaptasi epik Homer itu berkembang menjadi fenomena budaya yang memicu perdebatan luas, mulai dari kritik akademisi dan isu representasi perempuan hingga perang budaya di internet.
Pada saat yang sama, keberhasilan komersialnya menunjukkan bahwa film dewasa tanpa bergantung sepenuhnya pada waralaba superhero masih mampu menjadi tontonan massal.
Kesuksesan tersebut terlihat dari kinerja box office. Setelah melewati Oppenheimer, film Nolan sebelumnya yang juga sukses besar untuk film berorientasi penonton dewasa, The Odyssey terus mendekati USD 1 miliar atau sekitar Rp17,99 triliun secara global. Pada akhir pekan ketiganya, film itu telah mengumpulkan sekitar USD 911,4 juta atau Rp16,3 triliun, memperkuat posisinya sebagai salah satu film non-superhero paling menonjol tahun ini.
Dilansir dari The Guardian, Senin (3/8/2026), daya tarik The Odyssey juga terlihat dari komposisi penontonnya. Pada pekan pertama, penonton laki-laki lebih dominan, tetapi perbandingannya mendekati 50:50 pada pekan kedua. Sekitar tiga perempat penonton berusia di atas 25 tahun, sementara meme yang menampilkan Matt Damon sebagai Odysseus dan Robert Pattinson sebagai salah satu pelamar Penelope menunjukkan bahwa film tersebut juga berhasil menembus perhatian generasi lebih muda.
Fenomena ini dinilai menarik karena The Odyssey hadir ketika film-film yang secara tradisional diproyeksikan sebagai tontonan massal justru menghadapi hasil beragam. Supergirl, Masters of the Universe, Moana, Toy Story 5, dan Minions & Monsters tidak semuanya mampu menciptakan daya tarik lintas kelompok penonton seperti yang diharapkan. The Odyssey, sebaliknya, muncul sebagai film berklasifikasi R yang berangkat dari puisi epik kuno dan menyasar penonton dewasa, tetapi mampu mendekati skala kesuksesan blockbuster.
Dalam konteks itu, film Nolan disebut sebagai bentuk “monoculture”, yakni karya yang mampu menyatukan perhatian masyarakat yang semakin terpecah ke dalam kelompok-kelompok budaya dan minat yang lebih khusus. Fenomena semacam ini pernah terlihat pada Avatar, sedangkan sejumlah film sukses lain, termasuk seri Twilight dan sebagian film superhero, memiliki basis penggemar besar tetapi tidak selalu menjangkau penonton lintas demografi. Karena itu, The Odyssey dianggap menghidupkan kembali model film yang terasa sebagai sebuah “peristiwa” bersama.
Namun, paradoksnya, film tersebut juga merupakan produk intellectual property (IP). Kisah Odysseus berasal dari karya yang berusia hampir 3.000 tahun dan secara umum telah dikenal, setidaknya secara garis besar, oleh masyarakat yang pernah bersentuhan dengan pendidikan klasik. Nolan kemudian menggabungkan warisan cerita lama itu dengan pola diskursus internet modern. Hasilnya bukan sekadar film yang ditonton, melainkan karya yang terus dibedah oleh kritikus film, akademisi, penggemar Nolan, dan pengguna internet.
Perdebatan paling serius muncul setelah Emily Wilson, ahli kajian klasik dan penerjemah The Odyssey, mengulas film tersebut di London Review of Books. Wilson menyoroti penyimpangan Nolan dari teks Homer, penyederhanaan tema serta persoalan yang menurutnya berkaitan dengan ras dan gender.
Kritiknya kemudian memunculkan perdebatan mengenai apakah seorang akademisi klasik semestinya menilai film dengan kerangka kajian sastra atau apakah kritik film populer dapat menanggapi analisis akademik dengan standar yang berbeda. Wilson bahkan menilai adaptasi tersebut tidak memiliki kedalaman yang meyakinkan dalam sejumlah aspek.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022