
Pembuatan film dokumenter bom Thamrin, Sarinah. Bom yang terjadi pada 2016 sempat menggegerkan tanah air karena memakan korban. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)
SUDAH 72 tahun berlalu sejak film pertama Indonesia dibuat. Namun, kondisi perfilman Indonesia masih jauh dari kata memuaskan. Khususnya jika yang dibahas adalah film dokumenter. Tidak hanya kalah bagus dari sisi kualitas, tapi juga masih sangat kerdil karena banyaknya tekanan.
Direktur Forum Film Dokumenter (FFD) Kurnia Yudha F. mengatakan bahwa masa depan filmmaker dokumenter di negeri ini tidak jelas. Ada kebebasan berekspresi yang ditekan. Sebaliknya, jaminan keamanan tidak pernah tersedia. Pemilihan isu juga bisa menjadi polemik berkepanjangan yang sering kali malah menghambat produksi.
”Padahal, film dokumenter tidak bisa lepas dari kebebasan berekspresi,” terang Yudha kepada Jawa Pos saat dijumpai di Jogjakarta pada Rabu (30/3).
Berbagai keterbatasan itu tentu memengaruhi para filmmaker. Apalagi mereka yang masih muda. ”Mungkin ini soal jam terbang, tapi tetap ada ruang tidak aman,” urainya.
Setelah menjadi produk pun, film dokumenter jarang bertemu dengan lingkungan yang suportif. Yudha lantas menyebut dua film dokumenter, Senyap dan Jagal, sebagai contoh. Pemutaran film dokumenter karya Joshua Oppenheimer itu ditolak di mana-mana. ”Bahkan sampai ada ancaman,” keluhnya.
Di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) pun, Senyap tak boleh diputar. Bahkan, aparat menggeruduk lokasi pemutaran film. ”Itu contoh kejadian yang gede,” paparnya.
Realitas semacam itu membuat filmmaker berpikir ulang ketika hendak mengangkat isu-isu yang sensitif. ”Jadi, tidak berani membuat,” kata Yudha.
Film dokumenter, lanjut dia, bisa beradaptasi baik dengan kemajuan zaman dan perkembangan media sosial. Kini banyak film dokumenter yang dipasarkan melalui YouTube. ”Itu yang sekarang paling ngetren,” jelasnya.
Yudha optimistis, jika para filmmaker terus berkarya, film dokumenter akan semakin diterima masyarakat. Apalagi, banyak platform yang kini bisa dipakai untuk melakukan penetrasi film dokumenter. Metode hybrid juga memungkinkan film-film dokumenter ditonton secara daring dan luring. Tidak ada lagi jarak yang membatasi. ”Seniman dan filmmaker ini sebenarnya punya daya lenting yang tinggi,” ujarnya.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
