
TAK KEJAR POPULARITAS: Ria Enes bersama boneka Susan tetap konsisten pada jalur edutainment, yakni memberikan hiburan kepada anak-anak sekaligus memunculkan pesan mendidik. (RIA ENES FOR JAWA POS - SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Berkarier dengan sebuah boneka sejatinya tak pernah terbayangkan oleh Ria Enes. Tak terasa, kebersamaan Ria Enes dan Susan sudah berjalan 30 tahun. Simak obrolan Jawa Pos yang berlangsung pekan lalu bersama perempuan yang pernah aktif jadi penyiar itu.
---
Mbak Ria dan Susan apa kabar? Sekarang lagi sibuk project apa?
Baik. Alhamdulillah, sehat. Sekarang sibuk mengisi webinar, acara virtual atau live streaming terkait dengan parenting atau pendidikan anak. Tetap produktif rilis single lagu baru juga yang di-upload di YouTube.
Sempat vakum/nggak ada kabar lama, aktivitasnya apa saja ya, Mbak?
Sebenarnya sih nggak (vakum, Red). Cuma memang udah nggak kayak dulu, hehe. Sekarang mengelola playgroup, TK, dan sanggar juga. Ya tetap berkutat di dunia anak-anak di dalam koridor pendidikan yang menghibur.
Di mana kali pertama menemukan Susan?
Dulu dapatnya di salah satu mal di Surabaya. Ada produser yang menawarkan untuk bikin lagu anak (Si Kodok) dengan suara Susan. Jadi, Susan bukan hadiah dari orang lain, melainkan memang saya sengaja nyari.
Dulu, dari sekian banyak model boneka, kenapa Susan yang dipilih?
Karena kami siaran radio sudah lama dan banyak pendengar yang mengira Susan itu anak kecil beneran, jenis boneka semacam Susan mewakili karakter yang saya ciptakan. Kan ada juga boneka yang wajahnya manis, terlihat lembut, tapi Susan bukan yang seperti itu. Makanya, saya cari yang mukanya anak-anak nakal ini, hehehe.
Karakter Susan aslinya seperti apa?
Dia centil, sok tahu, nakal juga. Tapi, senakal-nakalnya anak kan tetap lucu ya, natural. Kenakalannya masih bisa ditoleransi, tinggal bagaimana kita yang mengarahkan. Justru, di situ saya ciptakan dialektika anak-anak dengan orang tua dan guru. Ya saya mewakili karakter pendidik/kakak/orang tua. Susan tuh tetap anak kecil yang nggak selalu nurut dan patuh.
Boneka Susan yang sekarang apa sama dengan Susan yang dulu?
Sama. Dan cuma satu, tapi memang kulitnya makin cokelat.
Usia Susan sudah 30 tahun, treatment-nya biar tetap awet?
Pastinya harus rutin dibersihkan, disisirin rambutnya supaya nggak gimbal, ditaruh dengan posisi duduk/tiduran dan jangan sampai miring. Ditempatkan di hardcase gitu. Ya namanya barang berumur memang nggak bisa dibohongi pasti, warnanya lebih kusam. Tapi, justru itu malah bikin kulitnya jadi lebih Nusantara ya. Susan sudah sawo matang nih kulitnya, hahaha.
Pernah terpikirkan untuk memensiunkan Susan?
Adakalanya saya merasa ingin berkarier sendiri tanpa melibatkan Susan. Tapi, banyak teman yang merasa bahwa itu adalah kenikmatan. Itu membuat saya tersadarkan dan merasa bersyukur. Ketika lagi ngisi acara parenting dan tidak ada kaitannya dengan anak-anak, yang dicari tetap aja Susan. Kayak udah 2in1 gitu ya, tidak bisa dipisahkan. Insya Allah, bakalan sama-sama terus.
Dulu Susan terkenal banget, sekarang gimana cara ngenalin lagi anak-anak ke Susan?
Saya sih ngalir aja. Nggak memperkenalkan diri atau apa. Di sosmed juga saya ada, walaupun nggak aktif. Lebih mengedepankan karya ketimbang eksistensi nama. Bagi saya pribadi, itu nggak penting. Hehe.
Seberapa berartinya Susan buat Mbak Ria?
Meski ini bukanlah cita-cita saya, bahkan tidak pernah terbayangkan. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya merasa disandingkan dan kemudian sadar bahwa saya ada di dunia pendidikan anak. Kalau saya bilang, ini edutainment, edukasi yang terbungkus entertainment. Saya menjalani apa yang tampak, tidak mau menolak kesempatan selama itu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan saya. Alhamdulillah, saya menikmati, mensyukuri, dan insya Allah bisa terus istiqamah. Susan mengajari saya untuk bersyukur, menerima takdir terbaik yang diberikan Allah.
Apakah ekspresi berasal dari diri sendiri, tapi dari sisi anak-anak, atau gimana?
Biasanya seorang pendidik, pendongeng, penghibur, dan lainnya memiliki sisi kekanakan, tapi bukan kekanak-kanakan. Nah, itu yang membuat mereka, termasuk saya, bisa berkreasi, berkarya, dan menikmati profesi. Jadi, kekanakan itu yang dijaga. Hehe.
Baca juga: Ria Enes Sebut Saatnya Hargai Irama dan Selera Musik Masing-masing
Dulu belajar ventriloquist berapa lama?
Kali pertama tampil dengan Susan, saya tidak menyadari bahwa itu ventriloquist. Karena saya tidak belajar itu. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan mengetahui bahwa itu ventriloquist, saya juga belajar dari teman-teman yang lain.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=BEp6W_bRv0o

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
