
Ghassan Kanafani penulis asal Palestina.
JawaPos.com - Ghassan Fayiz Kanafani lahir di Acre, Palestina pada tahun 1936. Ia masih berusia 12 tahun saat peristiwa Nakba pada tahun 1948 terjadi, yakni peristiwa terusirnya orang-orang Palestina dari Tanah Kelahirannya.
Nakba adalah tragedi yang memilukan bagi bangsa Palestina, sebagai individu dan sebuah bangsa. Realita ini yang membentuk pandangan politik dan tulisan-tullisan seorang Ghassan Kanafani.
Selanjutnya hidupnya dalam pusaran diaspora, dari Damaskus melintasi Kuwait hingga Beirut. Dia diasuh di sekolah Frere tempat dia belajar dan mengenyam pendidikan.
Damaskus menjadi tempat yang memengaruhinya menjadi seorang penulis, tatkala dia bekerja di sebuah percetakan. Hal ini seperti membuka jalan baginya terjun ke dunia tulis-menulis.
Pagi ia bekerja di percetakan dan malam hari Ghassan bergelut dengan buku hingga akhirnya ia di terima sebagai pengajar seni di sekolah-sekolah yang didirikan badan pengungsi PBB.
Di sanalah dia bertemu dengan George Habash, seorang tokoh revolusioner Palestina dan pendiri 'Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina.' (PFLP)
Habash pulalah yang mendorong Ghassan untuk menulis di surat kabar Al-Rai.
Proses inilah yang menjadi senyawa untuk tumbuhnya kesadaran politik Ghassan dan tulisan-tulisannya yang progresif serta kesadarannya akan sebuah tragedi.
Dari sinilah Ghassan merekam jejak dalam jurnalistik dan tulis menulis. Ia memadukan novel dan karya jurnalistik untuk menumbuhkan kesadaran politik dan mengarahkan kepada aksi politik.
Karya tulisnya yang paling fenomenal berjudul 'Men in The Sun' yang ditulis pada tahun 1962. Sebuah tulisan yang dengan apik melukiskan tentang tragedi yang merundung Palestina.
Penggambaran itu dilukiskan dalam karakter Abul Khaizaran. Seorang pria yang membawa tiga rekannya dalam tangki air dan pada akhirnya menemui ajal di gurun. Cerita itu menguntai tragedi.
Ghassan mengawali tumbuhnya generasi baru Palestina pasca kekalahan 1967. Periode yang diiringi oleh gelombang kesadaran anak-anak muda untuk andil dalam perjuangan.
Dengan tergabung dalam PFLP Ghassan sebagai penulis dan aktivis politik semakin bersenyawa. Sepanjang epos kesusastraan Palestina, Ghassan Kanafani adalah orang pertama yang membentangkan istilah Muqawamah atau Perlawanan.
Ghassan dengan gaya tulisannya yang naratif dan politis berupaya mengolektivitisasi narasi tentang Palestina, menyusun dan membangun kembali rumah sejarah bangsanya.
Ia mengajak orang untuk berani bermimpi dan berjuang atas mimpinya. Menuntun orang untuk bertindak. Bertindak dengan tuntunan keyakinan dan keberanian. Membuka kemungkinan baru atas kenyataan suram bangsa yang terjajah.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
