Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Tenggara Strategics mengungkap bahwa kebutuhan listrik di Asia Tenggara melonjak jauh lebih cepat melampaui kecepatan pembangunan sistem transmisi terpusat.
Kondisi ini telah dibahas seksama dalam forum khusus di Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 guna menyoroti solusi sistem kelistrikan yang lebih adaptif. Forum ini menegaskan bahwa harga teknologi surya bukan lagi kendala utama transisi energi.
Tantangan sebenarnya bergeser pada bagaimana sistem kelistrikan menyerap, menyimpan, dan memindahkan energi tersebut. Oleh karena itu, PLTS Atap, sistem komersial, dan jaringan mini yang dipadukan dengan BESS dinilai paling ideal karena sifatnya yang modular dan sangat cepat dibangun.
"Inklusi sosial dan ketahanan energi adalah semangat dari target 100GWp, termasuk menghadirkan energi melalui program elektrifikasi desa. Sebagian besar desa tersebar di daerah terpencil dan bergantung pada sektor pertanian dan perikanan lokal, sehingga penggunaan PLTS untuk kegiatan produktif merupakan solusi yang tepat," kata Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, Jumat (9/10).
Menurutnya, tantangan penyediaan listrik di wilayah ASEAN seragam. Masing-masing negara tidak memiliki perbedaan mencolok dalam proses di lapangan.
"Pengalaman Indonesia dalam memberdayakan masyarakat membuktikan bahwa tantangan penyediaan kelistrikan di kawasan Asia Tenggara sejatinya seragam, mulai dari penyesuaian regulasi, proses perizinan, hingga struktur kontrak," imbuhnya.
Oleh karena itu, AESI mengajak para pemangku kepentingan regional agar menyamakan langkah dalam menangani persoalan energi. Perizinan harus dibuat adaptif agar menarik modal global.
Direktur Eksekutif Earth Sherpa, Hirotaka Koike menyoroti kepekaan terhadap dinamika lokal. Aspek ini yang akan sangat membantu suksesnya program energi.
"Tantangan operasional di lapangan seringkali luput dari diskusi kebijakan makro. Kunci keberhasilan proyek skala komunitas terletak pada pembangunan ekosistem lokal yang mendukung, serta sinyal politik nasional yang kuat untuk mewujudkan visi sistem energi tersebut," ucapnya.
Sementara itu, Deputy Program Director New Energy Nexus, Zhou Yu menegaskan fungsi krusial dari inisiatif akar rumput.
"Model elektrifikasi berbasis komunitas memiliki peran penting dalam mengagregasi sumber daya surya atap yang terfragmentasi menjadi portofolio yang layak investasi. Selain itu, model ini memastikan akses energi bersih yang andal dan terjangkau bagi masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan, di mana perluasan jaringan konvensional dinilai kurang ekonomis," tambahnya.