Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Juni 2026 | 00.49 WIB

Penurunan Stok Batu Bara Disebut Jadi Pemicu Pemadaman Pembangkit

Ilustrasi alat berat di area tambang batu bara. (Istimewa) - Image

Ilustrasi alat berat di area tambang batu bara. (Istimewa)

JawaPos.com - Stok batu bara di sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di sistem Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) disebut menurun. Dampaknya, terjadi penurunan hari operasi pembangkit (HOP). 

Menurut Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo, penurunan stok batu bara pada sejumlah PLTU, khususnya di sistem Jamali merupakan konsekuensi dari kesalahan pengelolaan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara 2026 oleh pemerintah.

“Harus dikatakan memang terjadi kondisi penurunan hari operasi pembangkit (HOP). Namun kondisi masing-masing pembangkit berbeda karena sangat dipengaruhi kapasitas PLTU, kapasitas stockpile, kapasitas tambang pemasok, loading rate, sailing days, dan discharging rate,” kata Singgih kepada wartawan pada Rabu (17/6).

Dia membeberkan, kondisi stok merah atau HOP di bawah batas aman 15–26 hari memang terjadi di sebagian PLTU. Namun, kondisi itu tidak dapat disamaratakan karena tingkat risiko terhadap pemadaman berbeda pada setiap pembangkit.

Menurut Singgih, persoalan bermula ketika pemerintah mengubah arah kebijakan produksi batu bara nasional. Sebelumnya, pemerintah dalam RKAB tiga tahunan menetapkan rencana produksi sebesar 922 juta ton pada 2024, 917 juta ton pada 2025, dan 902 juta ton pada 2026. 

Dengan realisasi produksi 2025 yang mencapai sekitar 790 juta ton, kondisi pasokan batu bara untuk pembangkit pada dasarnya berada dalam kondisi aman.

Pada 2026, pemerintah berupaya menurunkan produksi nasional menjadi sekitar 600 juta ton dengan tujuan menghindari kelebihan pasokan di pasar global, terutama di kawasan Asia Pasifik yang menjadi pasar utama ekspor batu bara Indonesia.

Singgih mengaku telah menyampaikan kepada pejabat tinggi Kementerian ESDM bahwa kebijakan menekan produksi untuk mendorong kenaikan harga batu bara tidak akan efektif dalam jangka panjang. Sebab, negara tujuan utama ekspor batu bara Indonesia, yakni Tiongkok dan India memiliki cadangan dan kapasitas produksi yang jauh lebih besar.

Menurut dia, pengalaman saat pecahnya perang Rusia-Ukraina pada 2022 menunjukkan bahwa kenaikan harga batu bara global tidak serta-merta dapat diterima pasar. Ketika harga sempat mencapai sekitar USD 400 per ton, pembeli utama tetap melakukan penyesuaian sehingga harga batu bara Indonesia berada di kisaran USD 140 per ton.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore