Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 Juni 2026 | 07.24 WIB

Harga Pertamax Melejit Jadi Rp 16.250, Ekonom Sebut Dana Talang Pertamina Terbatas

Antrian warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Ekonom berpandangan bahwa kenaikan harga Pertamax (RON 92) merupakan kewajaran dalam menyikapi melonjaknya harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah. Dana talang yang dimiliki Pertamina disebut terbatas bila harus terus-menerus menahan kenaikan harga.
 
Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Hendry Cahyono mengatakan, Pertamina sudah beberapa bulan menahan kenaikan harha BBM non subsidi. Namun, kondisi geopolitik dunia tak kunjung membaik, sehingga harga minyak dunia terus meroket.
 
“Akhirnya setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi ditahan sehingga dilepas mengikuti mekanisme pasar. Karena itu kenaikan yang sekarang terjadi cukup tinggi. Mau tidak mau Pertamax harus naik,” kata Hendry saat dihubungi, Jumat (12/6).
 
Pertamina dalam beberapa waktu terakhir menggunakan dana perusahaan agar Pertamax tidak naik harga. Namun, dana tersebut terbatas, bila tidak diakhiri penggunaannya akan berdampak buruk bagi keuangan.
 
 
"Dana talangan Pertamina ini juga terbatas. Karena Pertamax ini kan BBM nonsubsidi. Tidak ada subsidi APBN di dalamnya. Jadi memang murni mengikuti harga pasar," jelas Hendry.
 
Tanpa adanya kenaikan harga Pertamax, bisa membuat kerugian besar. Akibatnya, persepsi investor dan lembaga pemeringkat terhadap kinerja keuangan Pertamina akan menurun.
 
"Investor melihat rasio keuntungan dan kinerja keuangan. Kalau terus merugi, siapa yang mau berinvestasi?," jelasnya.
 
Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, Yayan Satyaki berpendapat serupa. Menurutnya, harga minyak dunia dan kurs rupiah sangat menentukan harga BBM non subsidi.
 
“Karena kalau menggunakan rumus dalam Kepmen ESDM Nomor 19 Tahun 2019, acuan harganya menggunakan MOPS (harga rata-rata transaksi produk BBM di pasar Singapura). Di situ sangat tergantung terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar,” ucap Yayan.
 
Menurut Yayan, selama beberapa bulan terakhir masyarakat masih menikmati harga Pertamax yang relatif lebih rendah karena Pertamina menahan kenaikan harga melalui mekanisme dana talangan. Namun kondisi tersebut tidak dapat berlangsung terus-menerus karena harga keekonomian BBM terus bergerak mengikuti perkembangan pasar global.
 
Berdasarkan perhitungannya menggunakan formula yang mengacu pada MOPS Singapura dan nilai tukar rupiah, harga keekonomian Pertamax saat ini berada pada kisaran Rp 14.150 hingga Rp 16.650 per liter. Karena itu, harga baru Pertamax yang ditetapkan pemerintah masih berada dalam rentang perhitungan tersebut.
 
"Pemerintah menetapkan di sekitar Rp16.250. Jadi memang kalau menggunakan rumus Kepmen ESDM tadi, harganya memang kurang lebih di situ," pungkasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore