
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Naiknya harga BBM nonsubsidi Pertamax kembali memunculkan sorotan terhadap ketahanan energi Indonesia yang dinilai masih rentan. Kondisi tersebut dianggap mencerminkan tingginya ketergantungan Indonesia pada energi fosil, sehingga gejolak global dapat dengan cepat berdampak pada harga energi di dalam negeri.
Situasi ini juga dipandang sebagai momentum bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Direktur Eksekutif CERAH, Agung Budiono, menjelaskan bahwa kebutuhan energi nasional masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar. Di sisi lain, produksi minyak domestik terus mengalami penurunan sementara konsumsi energi meningkat.
Akibatnya, harga BBM dalam negeri menjadi rentan terhadap perubahan harga minyak dunia maupun fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, kondisi serupa telah beberapa kali terjadi dalam sejarah. Pada 2008, ketika krisis keuangan global mendorong harga minyak dunia mencapai sekitar USD 145 per barel, harga BBM nonsubsidi sempat naik menjadi Rp12.000 per liter.
Situasi serupa kembali terlihat pada 2022 saat konflik Rusia-Ukraina mendorong harga minyak hingga sekitar USD 140 per barel dan membuat harga BBM nonsubsidi meningkat menjadi Rp 13.000 per liter.
Kini, memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat mendorong harga minyak menyentuh USD 126 per barel turut berkontribusi pada keputusan penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter.
“Kondisi ini menunjukkan persoalan utama tidak hanya melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, melainkan bukti bahwa struktur sistem energi di dalam negeri yang masih mengandalkan energi fosil selalu terdampak jika ada gejolak global. Masyarakat akan terus menghadapi risiko kenaikan harga BBM setiap kali gejolak global terjadi, kecuali pemerintah serius untuk mengurangi ketergantungan tersebut dengan diversifikasi energi terbarukan,” kata Agung.
Agung menilai pemerintah perlu memperkuat komitmen terhadap transisi energi yang berkelanjutan. Ia berpandangan bahwa percepatan pembangunan pembangkit energi terbarukan, disertai peningkatan elektrifikasi di berbagai sektor termasuk transportasi, dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022