
Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi oleh PT Pertamina (Persero) berpotensi mendongkrak angka inflasi dan membebani APBN, Senin (18/5/2026). (Salman Toyibi/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi oleh PT Pertamina (Persero) berpotensi mendongkrak angka inflasi dan membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Pengamat ekonomi dan energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengatakan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green akan memberikan dampak inflasi yang cukup tinggi di Indonesia.
"Kenaikan Pertamax ini akan memberikan dampak terhadap inflasi. Karena jumlah konsumen dari Pertamax 92 dan 95 ini cukup besar," ujar Fahmy kepada JawaPos.com, Rabu (10/6).
Kenaikan harga Pertamax 92 dan 95 juga berpotensi menyebabkan turunnya stabilitas di masyarakat khususnya untuk kelas menengah. Hal tersebut berpotensi memangkas pendapatan kelas menengah di Indonesia
Fahmy melanjutkan, perbedaan harga antara BBM subsidi dan non subsidi yang cukup besar akan menyebabkan migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite.
"Pertalite Rp 10.000, sementara Pertamax Rp 16.250. Selisihnya kan cukup besar, Rp 6.250. Ini akan menyurut migrasi atau perpindahan konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax. Dia akan berbondong-bondong jadi pindah ke Pertalite yang harganya masih Rp 10.000," ujarnya.
Fahmy menjelaskan, hal tersebut hanya akan menjadi pengalihan beban. Dimana, beban yang sebelumnya berasal dari pertamax dan pertalite menjadi satu titik ke bbm subsidi.
Menurutnya, jika Pertamina dan pemerintah menyesuaikan harga Pertamax untuk meringankan APBN hal tersebut tidak akan tercapai. "Karena beban sebelumnya untuk beban kompensasi. Tapi dengan migrasi besar-besaran tadi, subsidi-nya akan memenggak juga. Jadi kalau benar seperti itu, ini tidak ada pengaruhnya terhadap beban APBN tadi. Beban fiskalnya tetap saja besar," ucapnya.
Baca Juga:Harga Pertamax Naik jadi Rp 16.250 per Liter, ini Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina Mulai 10 Juni
Sebagaimana diketahui, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi atau Pertamax Series. Pada Rabu (10/6) harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 dari Rp 12.300.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan, penyesuaian harga ini diputuskan setelah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022