Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 April 2026 | 03.56 WIB

Sederet Keunggulan BBG: dari Kadar Oktan Tinggi, Emisi Karbon Lebih Rendah, hingga Harga Relatif Stabil

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas), terus mendorong optimalisasi penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) di sektor transportasi. (dok. PGN) - Image

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas), terus mendorong optimalisasi penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) di sektor transportasi. (dok. PGN)

JawaPos.com - Dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas), terus mendorong optimalisasi penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) di sektor transportasi. Secara teknis, BBG dinilai mampu menjadi alternatif energi sekaligus standar baru yang mendukung performa kendaraan lebih efisien dan ramah lingkungan.

Salah satu daya tarik utama BBG terletak pada nilai oktannya yang tinggi, yakni berada di kisaran 120 hingga 130 (Research Octane Number/RON). Angka ini memungkinkan mesin bekerja dengan rasio kompresi lebih tinggi, sehingga efisiensi termal dapat ditingkatkan secara maksimal.

Selain itu, BBG yang didominasi oleh metana (CH4) menghasilkan proses pembakaran yang lebih bersih dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). Emisi karbon yang dihasilkan pun lebih rendah, sekitar 20 persen, serta tidak meninggalkan residu pada komponen mesin. Hal ini berdampak pada umur mesin yang lebih panjang dan biaya perawatan yang lebih hemat.

Dari sisi keamanan, kendaraan berbahan bakar gas dilengkapi tangki khusus dengan kapasitas hingga 15 liter gas. Tangki ini dirancang mengikuti standar keselamatan tinggi. Jika terjadi kebocoran, gas akan langsung menguap ke udara sehingga meminimalkan risiko ledakan.

"Masyarakat tidak perlu khawatir mengenai aspek keamanan, karena pemasangan setiap converter kit maupun tangki BBG melalui standar yang keselamatan internasional oleh tenaga ahli yang kompeten," jelas Direktur Operasi dan Komersial Gagas, Maisalina dalam keterangannya, Rabu (15/4).

Dalam praktiknya, konsumsi BBG bervariasi tergantung jenis kendaraan. Kendaraan pribadi rata-rata menggunakan sekitar 10 liter setara pertalite (LSP) per hari, taksi mencapai 20 LSP, sementara bajaj dan angkutan kota berkisar 15–20 LSP. Untuk kendaraan berat seperti truk dan bus, konsumsi harian dapat mencapai 125 hingga 165 LSP. Dengan 1 LSP, kendaraan mampu menempuh jarak hingga 10 kilometer.

Dari sisi harga, BBG tergolong stabil di kisaran Rp 4.500 per LSP karena bersumber dari gas domestik. Keunggulan ini menjadikannya pilihan yang lebih ekonomis bagi masyarakat.

"Harga BBG juga stabil di angka Rp 4.500 per LSP, sangat bersahabat karena sumber gasnya berasal dari sumber domestik. Dengan banyak manfaat yang dapat dirasakan, kami berharap minat terhadap BBG semakin meningkat. Sebagai bagian dari Subholding Gas Pertamina, kami juga terus memperkuat kapabilitas agar layanan BBG semakin massif dan optimal sebagai solusi bahan bakar yang andal bagi masyarakat di berbagai wilayah," tutup Maisalina.

Secara teknis, BBG dapat digunakan pada kendaraan khusus berbahan bakar gas maupun kendaraan dengan sistem dual fuel. Sistem ini memanfaatkan converter kit yang memungkinkan pengguna beralih antara BBG dan BBM, sehingga jarak tempuh kendaraan menjadi lebih fleksibel.

Saat ini, BBG telah banyak dimanfaatkan oleh berbagai moda transportasi, mulai dari taksi konvensional dan online, bajaj, kendaraan pribadi, angkutan kota, hingga armada TransJakarta.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore