Fasilitas panel surya di lingkungan pesisir, Dumai, Riau. (Istimewa).
JawaPos.com - Di tengah tekanan krisis iklim dan menurunnya daya dukung lingkungan pesisir, upaya kolaboratif antara industri dan masyarakat semakin menjadi sorotan. Hal inilah yang tampak di Dumai, Riau.
Ketika masyarakat pesisir yang selama ini rentan terhadap abrasi dan kesulitan ekonomi mencoba bangkit melalui program Bedelau Minapolitan. Program ini melibatkan warga Kelurahan Tanjung Palas yang sejak lama menggantungkan hidup dari laut.
Namun, kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat sebagian nelayan terpaksa menempuh pekerjaan berisiko tinggi, seperti yang dialami Ramli (61), warga setempat.
Sejak usia belia ia mencari nafkah dengan menjajakan barang ke kapal-kapal yang melintas di Selat Malaka, sebuah pekerjaan berbahaya yang rawan cuaca buruk dan kecelakaan laut.
Kesulitan itu membuat Ramli bersama warga lain membentuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Palas Jaya. Awalnya mereka mencoba beternak lele dengan modal seadanya, namun hasilnya tidak memuaskan karena keterbatasan ilmu dan fasilitas.
Dukungan kemudian datang melalui program Bedelau Minapolitan yang memfasilitasi pelatihan serta penyediaan bibit dan peralatan. Dari sinilah usaha budidaya ikan mulai lebih terarah.
Cerita serupa datang dari Risman, warga Tanjung Palas lainnya, yang bersama kelompoknya mendirikan usaha Green Laundry. Mereka bahkan berhasil mengolah rumput teki menjadi sabun ramah lingkungan, menghubungkan kebutuhan ekonomi dengan kesadaran menjaga alam.
Tidak hanya soal ekonomi, program ini juga menyentuh aspek ekologi. Sepanjang 86 meter garis pantai Dumai kini ditanami lebih dari 3.000 bibit mangrove endemik, sekaligus menjadi barikade alami terhadap abrasi.
Data yang dipublikasikan menunjukkan kontribusi program terhadap penyerapan karbon dan pengendalian emisi. Pihak Kilang Pertamina Internasional (KPI) menyebut inisiatif ini lahir dari dialog dengan masyarakat.
“Program Bedelau Minapolitan lahir dari evaluasi potensi lokal yang dipadukan dengan keinginan masyarakat untuk tumbuh mandiri. Kami mencoba menghadirkan solusi yang bukan hanya ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan,” ujar Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani melalui keterangannya.
Senada, Area Manager Communications, Relations & CSR Kilang Dumai, Agustiawan menambahkan bahwa tujuan utamanya adalah mengurangi risiko ekonomi berbahaya yang selama ini dihadapi warga.
“Kami melihat banyak nelayan hidup dalam kondisi rentan hingga terpaksa menjalani pekerjaan berisiko tinggi. Dengan program ini, kami berharap mereka bisa keluar dari jerat ekonomi itu dan beralih ke usaha yang lebih aman dan berkelanjutan,” katanya.
Bagi masyarakat seperti Ramli dan Risman, program ini diharapkan bisa membuka jalan keluar dari siklus pekerjaan berbahaya dan ekonomi subsisten. Namun ke depan, keberlanjutan akan sangat ditentukan oleh bagaimana pemerintah, masyarakat, dan industri mampu memastikan transformasi ini benar-benar berpihak pada lingkungan dan generasi berikutnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
