Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Januari 2024 | 23.35 WIB

Soal Transisi Energi, Komitmen Tiga Paslon untuk Nol Deforestasi Belum Terlihat

ILUSTRASI. Gambaran deforestasi hutan dan lahan demi mencapai target bauran energi dari biomassa kayu. - Image

ILUSTRASI. Gambaran deforestasi hutan dan lahan demi mencapai target bauran energi dari biomassa kayu.

JawaPos.com - Tiga pasangan calon (paslon) presiden-wakil presiden yang berkontestasi di pilpres 2024 telah menyusun langkah-langkah transisi energi. Tim kampanye masing-masing paslon pun telah menjelaskannya dalam diskusi 'Meneropong Bioenergi di Tangan Calon Presiden dan Wakil Presiden 2024-2029' beberapa waktu lalu. Namun menurut Forest Watch Indonesia (FWI), desain transisi energi yang ditawarkan para paslon belum mampu menunjukkan komitmen nol deforestasi.

Janji dan tanggapan tim kampanye ketiga paslon dinilai masih teoritis dan normatif. Belum dilandaskan pada fakta-fakta lapangan bagaimana sejauh ini kebun energi dan hutan tanaman energi yang dibangun dengan merusak hutan alam.

Manager Kampanye, Advokasi, dan Media FWI, Anggi Putra Prayoga menyebut, tantangan yang dihadapi selama proses transisi energi membutuhkan komitmen yang lebih kuat dalam evaluasi dan audit kinerja. Selain itu, pentingnya kembali kepada prinsip tata kelola yang baik, seperti transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan penegakan hukum, menjadi pijakan utama untuk memastikan keberhasilan transisi energi yang berkelanjutan dan berkeadilan.

"Seharusnya ini yang menjadi sorotan mereka, bagaimana proses transisi energi dipantau dan tidak merugikan lingkungan, juga masyarakat adat," kata Anggi dalam keterangan kepada media, Jumat (19/1).

Dalam diskusi tersebut, Juru Bicara Timnas 01 AMIN, Irvan Pulungan menyampaikan niatnya untuk mengevaluasi program bioenergi melalui penyelidikan lingkungan yang melibatkan inventarisasi. Tujuannya adalah menentukan kapasitas dan batasan sesuai dengan ketentuan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Selain itu, fakta Indonesia baru mencapai 1 persen dari kebutuhan membuatnya percaya diri bahwa jika pasangan AMIN terpilih, mereka akan meningkatkannya menjadi 4 persen hingga lima tahun ke depan. Menurut Anggi, apa yang disampaikan Irvan terlalu teoritis dan normatif.

"Kita tahu bahwa instrumen kebijakan 32/2009 implementasinya tidak cukup kuat dan selalu hanya dijadikan prasyarat dokumen saja dalam safeguards sosial lingkungan. Kemudian, Jika AMIN fokus pada mengakselerasi capaian transisi energi dari 1 persen ke 4 peren, maka ini langkah keliru," kata Anggi.

Dengan 1 persen saja, sambung Anggi, sudah banyak kerusakan lingkungan, kerusakan hutan dan permasalahan sosial akibat transisi energi. Seharusnya, kata Anggi, yang pertama dilakukan adalah melakukan audit kinerja transisi energi baik dari sisi kelembagaan, pendanaan, sampai ke implementasi di lapangan.

"Jika tidak realistis dan feasible seharusnya jangan dipaksakan bioenergi ini," imbuhnya.

Sementara itu, Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran, Dradjad Wibowo mengklaim bahwa program transisi energi yang mereka tawarkan paling realistis dan feasible. Drajad berpendapat bahwa biomassa merupakan opsi yang rasional dari segi keuangan dan implementasi dalam jangka pendek.

Meskipun dia menyadari adanya peluang menggunakan energi geothermal dan surya, namun prosesnya dianggap membutuhkan investasi besar dan memakan waktu yang lama. Menurut Anggi, tinginya biaya produksi untuk membangun kebun energi justru membuat biomassa menjadi beban fiskal ke depan.

"Seharusnya TKN 02 belajar dari pembangunan kebun energi di hutan Jawa oleh Perum Perhutani. Realisasi pemenuhan bahan baku biomassa untuk co-firing di PLTU hampir mencapai nol, meski kebun energi seluas sekitar 45 ribu Ha sudah dibangun sejak 2019. Rencana untuk mengonversi green biomass menjadi wood pellet sejak 2021 belum terwujud," jelasnya.

Dewan Pakar TPN 03 Ganjar-Mahfud, Agus Hermanto, mengakui adanya sejumlah tantangan yang mesti diatasi dalam perjalanan transisi energi saat ini. Dalam konteks bahan baku bioenergi, Agus menunjukkan kesadaran akan adanya opsi sumber daya selain pelet kayu, termasuk penggunaan minyak goreng bekas, singkong, dan bahkan kacang-kacangan.

"Strategi kami adalah menerapkan kebijakan inventarisasi CPO (crude palm oil), kemudian melakukan pemetaan target apakah tujuannya untuk B30 atau B40. Ini dilakukan secara berimbang dengan mengutamakan konsumsi masyarakat, baru yang terakhir adalah untuk ekspor," jelas Agus.

Sayangnya, menurut Anggi, belum jelas komitmen dari TPN 03 terhadap nol deforestasi dalam transisi energi. Ia pun menyarankan agar komitmen lebih difokuskan pada evaluasi dan audit kinerja proyek transisi energi. Mengandalkan biofuel sebagai sumber energi terbarukan, menurutnya, justru memperparah terjadinya deforestasi dan kerusakan lingkungan. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore