
Direktur Utama PT Prima Layanan Nasional Enjiniring (PLNE) Chairani Rachmatullah bersama Presiden Direktur PT Indo Raya Tenaga (IRT) Peter Wijaya menandatangani kerja sama disaksikan Direktur Jenderal EBTKE Dadan Kusdiana. Foto: Kementerian ESDM
JawaPos.com-Teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) dan penggunaan energi primer green amonia menjadi salah satu pilihan untuk menurunkan emisi karbon pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Sejumlah perusahaan menyepakati sejumlah perjanjian untuk penggunaan energi alternatif itu di sela-sela rangkaian B20, Selasa lalu (15/11).
Seperti yang dilakukan PT Prima Layanan Nasional Enjiniring dengan PT Indo Raya Tenaga (IRT). Keduanya sepakat untuk menjalin kerja sama uji coba penggunaan energi primer green amonia sebagai bahan bakar PLTU sebanyak 60 persen. Yang telah dilengkapi teknologi SCR. “Kami berharap studinya menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Ini akan menjadi cara kita agar coal power plant akan lebih ramah lingkungan,” kata Direktur Coorporate Planing & Business Development PLN Hartarto Wibowo.
Menurut dia, uji coba bisa rampung dalam waktu tiga bulan ke depan. Setelah itu hasilnya bisa dipaparkan ke Drektorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya (ESDM). “Ini semua untuk hidup yang lebih renewable,” imbuhnya.
Direktur Jenderal EBTKE Dadan Kusdiana berkomitmen melakukan dekarbonisasi untuk PLTU. Berbagai kajian didorong untuk menjalankan kebijakan Net Zero Emissions (NZE). Termasuk, penggunaan green amonia dengan teknologi SCR di PLTU Jawa 9 dan 10 akan dikaji serius.
Amonia hijau bisa menjadi salah satu bagian dari perjalanan menuju transisi energi terbarukan. Pembakaran ammonia di dalam tungku uap, tidak akan menghasilkan emisi karbon. Namun berupa nitrogen oksida yang kemudian dikonversi oleh SCR menjadi air dan nitrogen bebas.
Dadan mengungkapkan, emisi pembakaran batubara menghasilkan CO2 yang berbahaya. Makanya, emisi zat tersebut harus dikurangi. ’’Jalan yang paling praktis mungkin bisa dilakukan dengan mengganti PLTU batubara. Tapi kan ada aset dan segala nilai keekonomian. Makanya dekarbonisasi mengarah ke hidrogen dan amonia saya pikir ini jalan yang smart,” bebernya.
Seperti diketahui, PLTU Jawa 9 dan 10 merupakan pembangkit ultra super critical satu-satunya di Indonesia. Memiliki peralatan pengontrol emisi terlengkap. Antara lain, Flue Gas Desulfurization, Electro-Static Precipitator, Low NOx burner, dan Selective Catalytic Reduction. ’’Target kami apabila PLN ingin menetransisikan energi batubara ke green amoni, PLTU ini sudah siap,” tandas Presiden Direktur PT Indo Raya Tenaga Peter Wijaya. (*)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
