
Teknisi melakukan perawatan pada instalasi panel listrik tenaga surya di Salah Gedung Perkantoran di Jakarta, (28/4/2021). Penggunaan instalasi panel surya yang dapat menghasilkan listrik 5.000 watt per hari tersebut dapat menghemat listrik sekitar 50 per
JawaPos.com - PLN berupaya mendongkrak porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) dan menekan angka impor bahan bakar minyak (BBM). Hal itu dilakukan melalui konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke EBT.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, program konversi PLTD ke EBT itu dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, PLN akan mengonversi sampai dengan 250 megawatt (mw) PLTD yang tersebar di beberapa titik di Indonesia.
Nanti PLTD itu diganti menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) baseload yang artinya ada tambahan baterai agar pembangkit bisa menyala 24 jam. "Kami sedang melakukan lelang dalam 1‒2 bulan ini. Sekarang sudah ada 160 peserta yang eligible,: ujar Darmawan.
Dia melanjutkan, dalam lelang itu, PLN membebaskan spesifikasi baterai yang akan dipakai peserta. PLN mengedepankan para peserta bisa meningkatkan inovasi sehingga tercipta baterai yang efisien dan punya keandalan operasi.
"Jadi, teknologi mana yang paling andal dan efisien yang paling bagus. Itu yang menang. Ini membangun inovasi," imbuhnya.
Dengan konversi ke PLTS dan baterai, kapasitas terpasang pada tahap pertama tersebut bisa mencapai sekitar 250 mw. Tahap kedua, PLN akan mengonversi PLTD sisanya sekitar 338 mw. Darmawan menambahkan, proyek konversi ditargetkan rampung pada 2026. Proyeksinya, sebanyak 2.130 titik PLTD bisa terkonversi ke pembangkit energi bersih.
Darmawan meyakini biaya produksi pembangkit EBT di Indonesia bakal semakin kompetitif dibandingkan dengan pembangkit fosil. Hal itu bisa dilihat dari terus turunnya harga PLTS dan baterai.
Pada 2015 harga PLTS dipatok USD 25 sen per kilowatt hours (kWh). Saat ini mampu ditekan berkisar USD 5,8 sen per kWh, bahkan bisa turun di bawah USD 4 sen per kWh.
Sementara itu, harga baterainya mencapai USD 13 sen per kWh yang dulu sempat di angka USD 50 sen per kWh. Artinya, ada penurunan biaya hampir 80 persen.
Harga rata-rata paket baterai tipe Li-ion pada 2020 adalah USD 137/kWh. Turun hampir 80 persen dibandingkan dengan 2013 yang di angka USD 668/kWh.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
