
ILUSTRASI. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/11/2024). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com – Indonesia dan Jepang memperkuat kolaborasi strategis dalam energi berkelanjutan dan pembangunan infrastruktur ramah lingkungan. Kerja sama tersebut dilakukan khususnya melalui kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan bilateral dengan Utusan Khusus Perdana Menteri Jepang untuk AZEC Fumio Kishida, pada Senin (5/5).
Dalam pertemuan itu, dipastikan kelanjutan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh Unit 2, Solok, Sumatera Barat melalui dukungan pendanaan dari AZEC. "Salah satu proyek yang dapat menjadi milestone keberhasilan implementasi AZEC adalah PLTP Muara Laboh di Solok, Sumatera Barat. Proyek berkapasitas 82 MW ini telah mencapai financial close pada 18 April 2025 dan konstruksi PLTP akan segera dimulai," ujar Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan seremoni penandatanganan yang melibatkan PT Supreme Energy Muara Laboh dan Japan Bank for International Cooperation sebagai langkah penting dalam pengembangan PLTP Muara Laboh. Airlangga menyebut, proyek pembangkit energi bersih ini akan beroperasi secara komersial pada kuartal pertama tahun 2027.
Selain itu, pemerintah terus mendorong percepatan debottlenecking beberapa proyek AZEC seperti proyek Legok Nangka Waste-to-Energy, Sustainable Aviation Fuel, PLTP Sarulla, dan Proyek Jaringan Transmisi Jawa-Sumatera sehingga menjadi siap menuju tahap komersialisasi.
Proyek-proyek itu diharapkan dapat mencerminkan komitmen kedua negara dalam mempercepat transisi energi bersih dan pembangunan ekonomi hijau. "Ini adalah ada komitmen AZEC jumlahnya tertentu dan AZEC itu menyediakan dana sekitar JPY 4.000 triliun atau sekitar USD 35-40 miliar untuk proyek-proyek renewable energy di Asia," jelas Airlangga.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, proyek PLTP Muara Laboh yang baru mencapai financial close merupakan kelanjutan dari tahap pertamanya. "Yang sudah dibangun 80 MW, 82 MW tahap kedua, dan 60 MW tahap ketiga. Jadi, yang 82 MW itu COD (commercial operation date) tadi saya sebutkan 2027, tapi yang ketiga itu nanti 60 MW 2033," jelas Eniya.
Adapun total pembiayaan untuk proyek PLTP Muara Laboh Unit II mencapai USD 370 juta dari AZEC yang mencakup kontribusi Asian Development Bank (ADB) senilai USD 92,6 juta. Airlangga melanjutkan, dari aspek hubungan perdagangan dan investasi, kedua negara terus menunjukkan peningkatan signifikan.
Pada 2024, volume perdagangan bilateral mencapai USD 35 miliar, dan investasi Jepang di Indonesia tercatat sebesar USD 3,5 miliar, meningkat 52 persen dibandingkan tahun 2021. Jepang menjadi sumber investasi terbesar keenam Indonesia, dengan lebih dari 12.000 proyek di berbagai sektor strategis.
"Angka investasi tersebut merupakan kepercayaan dan keyakinan yang diberikan perusahaan Jepang kepada Indonesia," imbuh Airlangga.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
