Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Juni 2024 | 17.00 WIB

Warga Tuban Trauma dengan Insiden Pipa BBM Pertamina Bocor: Bau Masih Menyengat, Kandungan Gas Nol

Petugas BPBD Tuban menggendong warga lansia menuju tenda pengungsian di lapangan Desa Tasikharjo, Senin (10/6). - Image

Petugas BPBD Tuban menggendong warga lansia menuju tenda pengungsian di lapangan Desa Tasikharjo, Senin (10/6).

JawaPos.com – Warga Desa Remen dan Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, yang sempat diungsikan pasca kebocoran gas di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tuban telah kembali ke rumah masing-masing. PT Pertamina Patra Niaga menyebut situasi telah kondusif.

Area Manager Communication, Relation & CSR Jatimbalinus PT Pertamina Patra Niaga Ahad Rahedi memastikan, saat ini sudah tidak ada warga yang bertahan di pengungsian. Tim HSSE Pertamina Patra Niaga juga sudah melakukan gas test (pengukuran kandungan gas di udara) di sekitar daerah permukiman dengan menggunakan alat ukur. ”Hasilnya menunjukkan sudah tidak terdapat kandungan gas di udara,” katanya kepada Jawa Pos kemarin (11/6).

Namun, Ahad belum mau berbicara banyak soal investigasi kebocoran gas tersebut.

”Akan kami sampaikan jika sudah ada hasil investigasinya. Masih perlu berbagai tahapan. Sejauh ini tidak ada hambatan dalam proses investigasi,” terang dia.

Meski situasi disebut kondusif, dilansir dari Radar Tuban, bau gas seperti BBM masih menyengat di wilayah permukiman Desa Remen dan Tasikharjo, Kecamatan Jenu. Kondisi itu memaksa warga untuk selalu mengenakan masker.

Asih, warga Dusun Bludok, Desa Remen, hingga kemarin masih menjalani pemulihan setelah sempat dirawat di puskesmas akibat sesak napas. Dia tampak lemas. ”Alhamdulillah tidak sampai terjadi apa-apa. Saya memang ada riwayat sesak napas. Makanya saat kejadian langsung sesak napas dan sekarang masih pemulihan,” tuturnya.

Insiden bocornya pipa minyak membuatnya trauma. Saat kejadian, kondisi rumahnya dipenuhi asap putih dengan bau yang sangat menyengat. Asih mengalami kecemasan yang luar biasa. Terlebih, dia memiliki riwayat asma. ”Saya sempat menggunakan tabung oksigen dan dibawa ke puskesmas. Semoga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” tandasnya.

Rasmini, warga lainnya, yang juga sempat dirawat di puskesmas mengaku sudah pulih. Namun, dia masih trauma. Kendati sudah dipastikan aman dan bisa menyalakan kompor, seharian kemarin dia masih ragu menyalakan kompor. ”Tapi, setelah benar-benar dipastikan aman, akhirnya sekarang sudah berani menyalakan kompor,” katanya.

Terpisah, Kepala Desa Remen Rusdiono meminta pihak Pertamina untuk melakukan evaluasi secara total. Sebab, kejadian itu benar-benar memicu kepanikan warga yang luar biasa. ”Kami meminta Pertamina agar meningkatkan keamanan. Jangan sampai kejadian serupa terulang,” tegasnya.

Senada, Kepala Desa Tasikharjo Darmu juga meminta Pertamina untuk meningkatkan keamanan di TBBM Tuban. Insiden luberan BBM yang memicu asap disebut sangat merugikan masyarakat. Aktivitas warganya lumpuh total. ”Setelah ini, kami akan melakukan koordinasi dengan Kades Remen (terkait hal-hal yang harus disampaikan kepada pihak Pertamina sebagai langkah tindak lanjut, Red),” katanya.

Menanggapi trauma yang dialami warga, PT Pertamina Fuel Tuban melihat dampak yang dialami masyarakat tidak terhitung sebagai kerugian. ”Kalau untuk masyarakat, kami tidak memandang itu sebagai kerugian. Karena yang terpenting masyarakat bisa sembuh dan beraktivitas seperti sediakala,” kata Kepala Komunikasi dan Hubungan PT Pertamina (Persero) Taufiq Kurniawan.

Dalam catatannya, ada 13 warga yang mendapat penanganan kesehatan akibat gas yang terhirup. Perinciannya 5 korban terdampak pada siang dan 8 korban tambahan pada malam. ”Umumnya korban berusia di atas 30 tahun dan mempunyai riwayat penyakit yang rentan seperti asma,” ungkapnya.

Sejauh ini, kata dia, belum ada perhitungan kerugian dari PT Pertamina. Menurut Taufiq, kejadian itu hanya mengakibatkan luberan BBM sehingga tidak menimbulkan banyak kerugian. ”Luberan itu bisa langsung disedot dan dikembalikan ke tempat semula,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Meski pengukuran kadar gas sudah menunjukkan angka nol yang artinya tidak ada lagi gas berbahaya yang beredar di udara, Taufiq mengimbau warga untuk membuka pintu dan jendela rumah. ”Supaya gas bahaya yang terperangkap di rumah bisa keluar,” ujarnya. (dee/fud/tok/c19/fal)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore