Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Desember 2023 | 17.04 WIB

Indonesia Tetapkan Target Transisi Energi ke EBT pada 2060

 

Ilustrasi. Energi baru terbarukan. (PLN)

JawaPos.com - Indonesia menargetkan transisi energi dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT) pada tahun 2060. Hal itu disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Irwandy Arif saat membuka Indonesia Mineral and Energy Conference (IMEC) 2023 di Jakarta, Selasa (19/12).

"Pemerintah berkomitmen untuk melakukan transisi energi secara bertahap dan berkelanjutan," ujar Irwandy.

Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil masih sangat tinggi. Pada bauran energi primer di bulan Agustus 2023, porsi batu bara sebesar 38,8 persen, minyak bumi 31,6 persen, dan gas bumi 17,4 persen. Sedangkan porsi EBT hanya 12,2 persen.

Untuk mencapai target transisi energi, pemerintah akan melakukan berbagai upaya, yakni meningkatkan pemanfaatan EBT, baik untuk pembangkit listrik, transportasi, maupun industri.

"Serta melakukan hilirisasi mineral untuk mendukung pengembangan EBT, dan endorong investasi di sektor EBT", tambahnya.

Pada tahun 2024, pemerintah menargetkan kapasitas pembangkit EBT sebesar 13,6 gigawatt. Beberapa upaya yang akan dilakukan untuk mencapai target "Kami tendorong pembangunan PLTS atap dan menerapkan mandatori biodiesel B35", jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga akan melakukan transisi energi di sektor transportasi. Pada tahun 2024, pemerintah menargetkan 25 persen kendaraan baru yang diproduksi adalah kendaraan listrik.

"Guna mendukung transisi energi, pemerintah akan menerapkan beberapa program pendanaan, seperti penerapan carbon tax dan carbon trading dan Program gas energy transition partnership, serta energy transition mechanisme." Jelas Irwandy.

Secara keseluruhan, rencana transisi energi ini membutuhkan investasi sebesar 1,1 triliun dolar AS atau 28,5 miliar dolar AS per tahun hingga tahun 2060.

Disisi lain, mengenai tren minerba yang komoditasnya turun karna konflik geopolitik, Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira manyampaikan ada faktor lain yang menyebabkan turunnya tren minerba yakni musim dingin yang tidak terlalu dingin.

"Kalau kita lihat kan memang ada beberapa prediksi yang di tahun ini misalnya seperti musim dinginnya gak terlalu dingin gitu kan itu melibatkan juga ekspor kita menurun, tapi kalau dari sisi kita naik ya karena juga pemakaian domestik kita juga cenderung ada kenaikan," jelas Angga.

"Dan untuk proyeksi tahun depan yang saya lihat. Ya ini sangat dinamis ya karena juga menyangkut berbagai apa berbagi situasi geopolitik. Tapi kalaupun memang ada kenaikan juga tak akan terlalu tinggi ya kalau saya lihat seperti itu", terangnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore