
Ilustrasi. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Memasuki paro kedua 2022, kondisi perekonomian dinilai masih perlu diwaspadai investor di segala sektor untuk bijak dalam berinvestasi. Tak terkecuali bicara soal instrumen reksa dana. Ada strategi yang perlu diperhatikan agar bisa mendapatkan hasil yang optimal.
---
Berdasar data Bareksa, sepanjang semester I 2022, kinerja berbagai jenis reksa dana mengalami perlambatan. Untuk diketahui, reksa dana terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya, saham, pasar uang, campuran, dan pendapatan tetap.
Reksa dana pasar uang adalah jenis yang melakukan investasi pada instrumen investasi pasar uang dengan masa jatuh tempo kurang dari satu tahun. Bentuknya bisa berupa time deposit (deposito berjangka), certificate of deposit (sertifikat deposito), sertifikat Bank Indonesia (SBI), surat berharga pasar uang (SBPU), dan berbagai jenis instrumen investasi pasar uang lainnya. Risikonya relatif paling rendah dibandingkan reksa dana jenis lainnya.
Selanjutnya, pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek utang atau obligasi. Tujuannya, menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil. Risikonya relatif lebih besar daripada pasar uang.
Ada juga yang disebut reksa dana campuran. Yakni, mengalokasikan dana investasi dalam portofolio yang bervariasi. Instrumennya dapat berbentuk saham dan dikombinasikan dengan obligasi. Tujuannya, pertumbuhan harga dan pendapatan. Risiko reksa dana campuran bersifat moderat dengan potensi tingkat pengembalian yang relatif lebih tinggi dibandingkan pendapatan tetap.
Terakhir, reksa dana saham yang merupakan jenis yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat ekuitas. Tujuannya, pertumbuhan harga saham atau unit dalam jangka panjang. Risikonya relatif lebih tinggi daripada pasar uang dan pendapatan tetap. Namun, memiliki potensi tingkat pengembalian yang paling tinggi.
Mengamati kondisi global terkini, investor perlu mengetahui bahwa adanya risiko hiperinflasi atau kenaikan harga barang-barang yang tidak terkendali. Akibatnya, bank sentral di dunia pun perlu menaikkan suku bunga untuk mengantisipasi kondisi itu.
COO Bareksa Ni Putu Kurniasari menjelaskan, pelaku pasar saat ini mengkhawatirkan resesi global. Meski, dampaknya ke investasi di Indonesia tidak terlalu besar. ”Ekonomi Indonesia masih aman. Meski sempat kita merasakan kenaikan harga minyak goreng, sekarang mulai stabil karena supply dijaga baik,” ujarnya.
Lantas, seperti apa kondisi produk investasi Indonesia? Dengan suku bunga acuan The Fed (bank sentral Amerika Serikat) yang naik, beberapa aset, seperti obligasi negara dan saham-saham di negara berkembang, bisa terkena dampaknya. Karena itu, yield (imbal hasil) obligasi negara Indonesia juga ikut naik, yang mengindikasikan harganya turun.
”Maka, untuk short term condition 1–2 bulan ke depan, saya prefer investasi yang low-risk, tidak bergantung fluktuasi ini. Misalnya, produk reksa dana yang berbasis deposito atau obligasi korporasi,” tuturnya.
Head of Wholesale Distribution Syailendra Capital Aldies Sageri berpendapat, dengan kondisi saat ini, reksa dana pendapatan memang menjadi pilihan tepat untuk mendapat keuntungan. ”Investor yang memiliki tujuan keuangan jangka menengah dan profil risiko moderat bisa mempertimbangkan untuk memilih reksa dana pendapatan tetap ini,” ujarnya.
Co-Founder Ternak Uang Felicia Putri Tjiasaka menegaskan bahwa jenis reksa dana yang dipilih memang harus sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, kebutuhan dalam jangka waktu sekitar setahun lagi, menaruh dana di reksa dana pasar uang. Bila jangka waktu di bawah 5 tahun, taruh dana investasi di reksa dana pendapatan tetap.
Bila jangka waktunya masih panjang, di atas lima tahun, smart investor bisa menaruh investasi di reksa dana saham. ”Yang terpenting adalah melakukan investasi secara konsisten. Artinya, rutin dan disiplin untuk terus menambah modal investasi demi mencapai tujuan,” ujar Felicia.
KINERJA REKSA DANA SEMESTER I 2022
Jenis Reksa Dana | Pertumbuhan YtD
Pasar uang | 1,35 persen
Campuran | 0,96 persen
Saham | -0,16 persen
Pendapatan tetap | -1,03 persen
Sumber: Bareksa

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
