
Pengendara saat mengisi bahan bakar minyak di SPBU Kuningan, Jakarta, Rabu (30/3/2022). PT Pertamina (Persero) dikabarkan akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi jenis bensin dengan nilai oktan (RON) 92 alias Pertamax per Jumat, 1 April
Pengamat: Belum Berpengaruh ke Ongkos Barang dan Jasa
JawaPos.com – Pertamina melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Ada BBM yang turun harga. Sebaliknya, ada pula yang naik.
Jenis BBM yang turun harga adalah pertamax (RON 92) dari Rp 14.500 per liter menjadi Rp 13.900 per liter. Kemudian, harga pertamax turbo (RON 98) turun dari Rp 15.900 per liter menjadi Rp 14.950 per liter.
Sebaliknya, jenis BBM yang mengalami kenaikan harga adalah solar nonsubsidi. Salah satunya, harga dexlite naik dari yang awalnya Rp 17.100 per liter menjadi Rp 17.800 per liter.
Pertamina dex juga mengalami kenaikan harga dari sebelumnya Rp 17.400 per liter menjadi Rp 18.100 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menjelaskan, harga BBM nonsubsidi akan terus disesuaikan. Hal itu mengikuti tren harga rata-rata publikasi minyak, yakni Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus. ”Evaluasi dan penyesuaian harga untuk BBM nonsubsidi akan terus kami lakukan secara berkala setiap bulan,” kata Irto kemarin (1/10).
Berdasar penghitungan, lanjut dia, pada periode September lalu, produk gasolin (bensin) seperti pertamax series mengalami penyesuaian turun harga. Di sisi lain, produk gasoil (diesel) seperti dexlite dan perta dex naik harga. ”Seluruh penyesuaian harga berlaku sejak 1 Oktober,” ujar Irto.
Seluruh harga baru itu berlaku untuk provinsi dengan besaran pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5 persen seperti di wilayah DKI Jakarta. Hal tersebut juga sudah sesuai dengan penetapan harga yang diatur dalam Kepmen ESDM No 62/K/12/MEM/2020 tentang Formulasi Harga JBU atau BBM nonsubsidi. ”Pertamina juga terus berkomitmen menyediakan produk dengan kualitas yang terjamin dengan harga yang kompetitif di seluruh wilayah Indonesia,” tutur Irto.
Dia menjelaskan, perbedaan penyesuaian harga pada produk pertamax series dan dex series dipengaruhi kondisi energi global. Salah satunya adalah geopolitik di Eropa Timur. Kondisi itu mengakibatkan tingginya permintaan produk bahan bakar gas di seluruh dunia.
Salah satu subtitusi produk bahan bakar gas adalah bahan bakar diesel yang harganya mengacu pada MOPS Kerosene. ”MOPS Kerosene ini menjadi acuan harga untuk bahan baku produk diesel. Tingginya permintaan dan terbatasnya bahan baku membuat harganya tetap tinggi meski tren harga minyak dunia menurun,” terangnya.
Masyarakat yang ingin mendapat informasi lengkap mengenai seluruh harga produk terbaru bisa langsung mengakses website Pertamina. Yaitu, https://www.pertamina.com/id/news-room/announcement/daftar-harga-bbk-tmt-1-oktober-2022-Zona-3 atau langsung menghubungi Pertamina Call Center (PCC) 135.
Terpisah, dalam pandangan Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan, penurunan harga BBM nonsubsidi merupakan hal yang lumrah. ”Mengingat, beberapa waktu ini harga minyak dunia mengalami penurunan,” jelasnya kepada Jawa Pos tadi malam.
Hal itu sesuai dengan formulasi Kepmen ESDM 62/2020. Penghitungan menggunakan rata-rata harga publikasi MOPS atau Argus. Dengan satuan USD per barel periode tanggal 25 pada dua bulan sebelumnya sampai tanggal 24 satu bulan sebelumnya untuk penetapan bulan berjalan.
Seiring dengan penurunan harga BBM nonsubsidi, masyarakat pun berharap terjadi penyesuaian harga BBM bersubsidi seperti pertalite. Namun, menurut Mamit, tampaknya hal itu belum akan terwujud. ”Untuk BBM subsidi, saya kira karena belum memasuki keekonomian. Sepertinya berat untuk turun harga,” ujarnya.
Untuk pertalite, jika mengacu pada harga September, pemerintah masih memberikan kompensasi Rp 3.150 per liter dan solar subsidi Rp 7.950 per liter. ”Jika misalnya turun, apakah akan diikuti dengan penurunan harga barang dan jasa? Ini yang saya khawatirkan karena nanti hanya mengurangi beban BBM, tetapi harga barang dan jasa tetap sama,” tandasnya.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
