Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 September 2026 | 00.32 WIB

Alat Berat Listrik Diproyeksi Kuasai 20 Persen Pasar dalam 5 Tahun, Ini Tantangannya

Press Conference GM Group Mining Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (9/9). (Dimas Choirul/JawaPos.com) - Image

Press Conference GM Group Mining Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (9/9). (Dimas Choirul/JawaPos.com)

JawaPos.com - Alat berat berbasis listrik atau electric vehicle (EV) diproyeksikan menguasai sekitar 20 persen pasar dalam lima tahun mendatang. Namun, ambisi elektrifikasi sektor ini masih menghadapi tantangan, terutama tingginya investasi awal untuk membangun infrastruktur pendukung.

Direktur Marketing dan Sales, GM Tractors Yulius Sikku mengatakan, perkembangan alat berat EV saat ini berada pada fase yang mirip dengan kendaraan listrik beberapa tahun lalu. Menurutnya, ketika kendaraan listrik mulai diperkenalkan sekitar lima tahun lalu, teknologi tersebut masih diragukan banyak pihak.

Namun, keraguan tersebut perlahan berubah seiring semakin luasnya penggunaan kendaraan listrik. Yulius menyebut pangsa pasar mobil EV saat ini telah mencapai sekitar 20 persen.

"Tapi hari ini setahu saya, mobil EV sudah mencapai market share-nya itu sekitar 20 persen per tahun ini. Which is perkembangannya luar biasa signifikan," ujarnya dalam Press Conference GM Group, Mining Indonesia di Jakarta, Rabu (9/9).

Kondisi tersebut membuat pelaku industri alat berat melihat peluang serupa untuk kendaraan listrik di sektor alat berat. Yulius bahkan memproyeksikan pangsa pasar alat berat EV dapat mencapai 20 persen dalam lima tahun mendatang.

"Ya kami memimpikan hal yang sama. Kalau 5 tahun yang lagi market share alat berat EV itu mencapai 20 persen," tuturnya.

Biaya Operasional jadi Daya Tarik

Selain tren elektrifikasi, tekanan biaya energi menjadi salah satu alasan kendaraan listrik mulai dilirik industri. Direktur Utama PT Gaya Makmur Mobil Frankie S. Makaminang mengatakan, pelaku usaha menghadapi persoalan ketersediaan solar serta harga bahan bakar yang dinilai tidak menentu.

"Karena semakin banyak pengusaha-pengusaha susah dapat solar, dan kalaupun ada harganya mahal, harganya tidak menentu, kecenderungannya terus naik," kata Frankie.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore