
Ilustrasi Bank Indonesia
JawaPos.com – Ekonom Infast Bestari, Gede Sandra menilai pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) dapat menjadi momentum untuk memperkuat sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, Gubernur BI berikutnya sebaiknya memiliki orientasi yang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan stabilitas.
"Mundurnya Perry Warjiyo dari Gubernur BI adalah signal positif bahwa perubahan haluan ekonomi fiskal Pemerintahan Prabowo akan ditopang oleh koordinasi yang semakin baik dari otoritas moneter. Diharapkan Gubernur BI mendatang adalah otoritas moneter yang lebih pro kepada growth, bukan sekedar menjaga inflasi namun mengorbankan pertumbuhan daya beli masyarakat," ujarnya kepada jawapos.com, Senin (27/7) malam.
Ia juga mengaitkan masa kepemimpinan Perry Warjiyo pada 2018–2026 dengan menyusutnya jumlah kelas menengah di Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
"Kita tahu bahwa periode menjabat dari Perry Warjiyo, 2018-2026 juga bersamaan dengan periode kejatuhan kelas menengah di Indonesia. Pada tahun 2018, kelas menengah masih sekitar 23 persen dari polulasi, namun kini jumlahnya terus menyusut hingga tinggal 17 persen," katanya.
Gede menilai, besarnya populasi kelas menengah merupakan salah satu faktor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Ia membandingkan Indonesia dengan sejumlah negara yang memiliki proporsi kelas menengah lebih besar.
"Padahal kunci dari pertumbuhan ekonomi tinggi adalah kelas menengah yang gemuk. Karena bila dibandingkan dengan negara-negara lain jumlah kelas menengah di Indonesia (17 persen) tergolong yang terkecil. Seperti contohnya Thailand (40 persen), Vietnam (30 persen), Brazil (28 persen), India (20 persen), dan Amerika Serikat (43 persen)," jelasnya.
Ia menambahkan, negara-negara Asia Timur yang mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi juga memiliki struktur kelas menengah yang relatif besar, seperti China (50 persen), Jepang (55 persen), Korea Selatan (61 persen), dan Taiwan (31 persen).
Selain itu, Gede menilai kekhawatiran pasar mengenai independensi BI pasca-pergantian gubernur tidak perlu berlebihan. Menurutnya, tingkat independensi BI masih tergolong tinggi dibandingkan sejumlah bank sentral negara lain.
"Karena toh dibanding negara-negara tersebut, tingkat independensi bank sentral Indonesia masih yang tertinggi (skor 0-1, makin independen makin mendekati 1)," ucapnya.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
