Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Juli 2026 | 16.06 WIB

Gubernur BI Baru Diminta Lebih Pro-Pertumbuhan, Ekonom Soroti Penyusutan Kelas Menengah

Ilustrasi Bank Indonesia - Image

Ilustrasi Bank Indonesia

JawaPos.com – Ekonom Infast Bestari, Gede Sandra menilai pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) dapat menjadi momentum untuk memperkuat sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, Gubernur BI berikutnya sebaiknya memiliki orientasi yang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan stabilitas.

"Mundurnya Perry Warjiyo dari Gubernur BI adalah signal positif bahwa perubahan haluan ekonomi fiskal Pemerintahan Prabowo akan ditopang oleh koordinasi yang semakin baik dari otoritas moneter. Diharapkan Gubernur BI mendatang adalah otoritas moneter yang lebih pro kepada growth, bukan sekedar menjaga inflasi namun mengorbankan pertumbuhan daya beli masyarakat," ujarnya kepada jawapos.com, Senin (27/7) malam.

Ia juga mengaitkan masa kepemimpinan Perry Warjiyo pada 2018–2026 dengan menyusutnya jumlah kelas menengah di Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

"Kita tahu bahwa periode menjabat dari Perry Warjiyo, 2018-2026 juga bersamaan dengan periode kejatuhan kelas menengah di Indonesia. Pada tahun 2018, kelas menengah masih sekitar 23 persen dari polulasi, namun kini jumlahnya terus menyusut hingga tinggal 17 persen," katanya.

Gede menilai, besarnya populasi kelas menengah merupakan salah satu faktor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Ia membandingkan Indonesia dengan sejumlah negara yang memiliki proporsi kelas menengah lebih besar.

"Padahal kunci dari pertumbuhan ekonomi tinggi adalah kelas menengah yang gemuk. Karena bila dibandingkan dengan negara-negara lain jumlah kelas menengah di Indonesia (17 persen) tergolong yang terkecil. Seperti contohnya Thailand (40 persen), Vietnam (30 persen), Brazil (28 persen), India (20 persen), dan Amerika Serikat (43 persen)," jelasnya.

Ia menambahkan, negara-negara Asia Timur yang mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi juga memiliki struktur kelas menengah yang relatif besar, seperti China (50 persen), Jepang (55 persen), Korea Selatan (61 persen), dan Taiwan (31 persen).

Selain itu, Gede menilai kekhawatiran pasar mengenai independensi BI pasca-pergantian gubernur tidak perlu berlebihan. Menurutnya, tingkat independensi BI masih tergolong tinggi dibandingkan sejumlah bank sentral negara lain.

"Karena toh dibanding negara-negara tersebut, tingkat independensi bank sentral Indonesia masih yang tertinggi (skor 0-1, makin independen makin mendekati 1)," ucapnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore