Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Juli 2026 | 04.16 WIB

INDEF: Libur Sekolah dan Berhentinya MBG Tak Banyak Redam Inflasi Pangan, Pasokan Masih Jadi Penentu

Riset indef terbaru 27 Juli 2026. (Dok. Indef) - Image

Riset indef terbaru 27 Juli 2026. (Dok. Indef)

JawaPos.com – Penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah dinilai belum mampu menekan tekanan harga pangan secara signifikan. Faktor pasokan disebut menjadi penentu utama pergerakan harga sejumlah komoditas pangan.

Dalam laporan Institut for Development of Economics and Finance (INDEF) bertajuk "Monitoring Issue of Food,Energy and Sustainable Development" yang dirilis 27 Juli 2026 mencatat, inflasi kelompok volatile food pada Juni 2026 masih berada di level 5,58 persen secara tahunan (year on year/yoy).

"Angka tersebut menunjukkan tekanan harga pangan belum sepenuhnya mereda meskipun permintaan dari program MBG berkurang selama masa libur sekolah," tulis laporan tersebut dikutip Senin (27/7).

Sejumlah komoditas yang menjadi bahan baku utama MBG juga masih mencatat kenaikan harga secara tahunan. Beras naik 4,21 persen, daging sapi 6,99 persen, cabai rawit 16,58 persen, dan minyak goreng 9,29 persen.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa persoalan pasokan lebih dominan dibanding penurunan permintaan sementara akibat berhentinya distribusi MBG.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga. Daging ayam tercatat turun 5,15 persen secara bulanan (month to month/mtm), sedangkan telur ayam turun lebih dalam hingga 6,84 persen.

Riset INDEF juga menunjukkan satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata menyerap 2.552 kilogram beras, 1.630 kilogram daging ayam, 1.325 kilogram tempe, 1.105 kilogram telur, dan 160 kilogram kentang setiap bulan.

Besarnya kebutuhan tersebut membuat keberlangsungan program MBG berpotensi memengaruhi permintaan sejumlah komoditas pangan.

Meski demikian, kapasitas produksi nasional dinilai masih cukup kuat. Produksi daging ayam terus meningkat dari 3,20 juta ton pada 2020 menjadi 4,06 juta ton pada 2025, sementara produksi telur ayam naik dari 5,14 juta ton menjadi 6,31 juta ton pada periode yang sama.

Dalam kajian terpisah, INDEF menyoroti perkembangan harga telur ayam di tingkat produsen yang turun dari sekitar Rp27.000 per kilogram pada awal Juni menjadi Rp25.400 per kilogram pada akhir Juni 2026, atau terkoreksi sekitar 5,9 persen.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore