Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Juli 2026 | 16.34 WIB

IHSG Berpotensi Melemah di Tengah "wait and see" Pertemuan The Fed

Karyawan berada di dekat layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Karyawan berada di dekat layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos,com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin bergerak melemah di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed).

IHSG dibuka melemah 10,63 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,80. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,07 poin atau 0,34 persen ke posisi 612,72.

"IHSG diperkirakan bergerak cenderung melemah dengan kisaran support di level 6.060 dan resistance di level 6.300. Selama IHSG masih bertahan di atas area support 6.060, tekanan yang terjadi diperkirakan masih berupa koreksi yang wajar sebagai respons atas sentimen pasar,” ujar Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.

Dari mancanegara, Hendra mengatakan penurunan harga minyak mentah dapat meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, mengurangi tekanan terhadap kebijakan suku bunga bank sentral, serta menurunkan risiko kenaikan biaya energi bagi dunia usaha.

Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak, Ia menyebut pelemahan harga minyak juga berpotensi memberikan sentimen positif terhadap inflasi domestik, neraca perdagangan, serta stabilitas nilai tukar Rupiah.

"Terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel,” ujar Hendra.

Sementara itu, pelaku pasar akan mencermati pertemuan bank sentral AS The Fed dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli 2026 pekan ini, untuk menentukan arah kebijakan suku bunga acuannya.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE), serta data inflasi PCE AS, pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026, data durable goods orders AS, rapat Politbiro China, serta PMI manufaktur China,

Dari dalam negeri, Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).

Hendra mengatakan, sentimen itu muncul di tengah kondisi global yang juga masih penuh tantangan, mulai dari menjelang keputusan suku bunga The Fed (FOMC), tingginya volatilitas pasar global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore