
Karyawan berada di dekat layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) merupakan langkah yang cukup rasional untuk memperkuat daya saing sektor keuangan nasional sekaligus menarik arus modal global.
Yusuf mengatakan, Indonesia memang membutuhkan instrumen baru untuk membangun pusat keuangan berstandar internasional. Namun, ia mengingatkan agar proses penyusunan regulasi dilakukan secara matang mengingat perubahan yang akan dibawa PFII cukup besar.
"Regulasi ini memiliki dasar hukum yang jelas. Namun, proses penyusunannya berjalan cukup cepat. Mengingat PFII akan membawa perubahan besar, termasuk mekanisme hukum khusus seperti common law, pengadilan khusus, dan sistem pengawasan tersendiri, detail aturannya harus benar-benar dipastikan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari," ujar Yusuf saat dikonfirmasi JawaPos.com, Kamis (16/7).
Yusuf mengatakan, kondisi global saat ini memang membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi yang mencari alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun, peluang tersebut harus dibarengi dengan kesiapan ekosistem keuangan domestik.
Menurutnya, Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi kedalaman pasar keuangan, transparansi, hingga kepastian regulasi jika dibandingkan dengan pusat keuangan global seperti Singapura maupun Hong Kong.
"PFII sebaiknya dipandang sebagai alat untuk mempercepat pembangunan ekosistem keuangan, bukan sebagai tanda bahwa Indonesia otomatis menjadi pusat keuangan global," ujarnya.
Yusuf menilai PFII berpotensi mendorong investasi, memperdalam pasar keuangan, mempercepat inovasi, serta mendukung pembiayaan proyek strategis dan ekonomi berkelanjutan. Namun, manfaat tersebut hanya akan tercapai apabila dana yang masuk benar-benar mengalir ke sektor produktif di dalam negeri.
Ia mengingatkan agar PFII tidak hanya menjadi lokasi pencatatan transaksi (booking center), sementara aktivitas ekonomi sesungguhnya tetap berlangsung di negara lain.
Lanjutnya, ia menyebut bahwa daya saing Indonesia tidak cukup dibangun melalui pemberian insentif pajak. Menurutnya, keunggulan Indonesia justru terletak pada besarnya potensi sektor riil, mulai dari mineral, energi, infrastruktur, hingga proyek ekonomi hijau.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

4 Keunggulan Introvert yang Kini Justru Diinginkan oleh Banyak Orang Pada Era Modern
4 Faktor yang Membentuk Kepribadian Introvert Menurut Penjelasan Psikologi
5 Kiat Introvert Menjadi Pemimpin Tangguh Tanpa Harus Mengubah Sifat Alami
Kenaikan Target Bansos 2026: Kemensos Wajibkan Registrasi Ulang Wajah
Jokowi Dikabarkan Deklarasi jadi Ketum PSI Awal November, KDM Disebut Ikut Pindah Gerbong
Ganggu Lingkungan Pemkot Surabaya Segel Usaha Potong Ayam di Tengah Kampung Bratang Gede
Madura United Bidik 3 Poin di Derbi Suramadu, Persebaya Surabaya Wajib Waspada
Tavares Janji Persebaya Tampil Trengginas Lawan Madura United Demi Dongkrak Klasemen
Prediksi Skor Lens vs Paris FC di Liga Prancis: Les Parisiens Kejar Puncak
Prediksi Skor Barcelona vs Real Madrid 26 Oktober 2026: El Clasico Sengit!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022