Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Juli 2026 | 23.48 WIB

Setelah Surplus 72 Bulan Berturut-turut, Neraca Perdagangan Defisit USD 1,61 Miliar pada Era Prabowo

Ilustrasi kegiatan ekspor impor. Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026 atau mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut. - Image

Ilustrasi kegiatan ekspor impor. Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026 atau mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.

JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026 atau mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.

Defisit neraca perdagangan Indonesia disebabkan oleh nilai impor yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai ekspor. Adapun, nilai impor Indonesia pada Mei sebesar USD 24,81 miliar, sedangkan ekspor RI USD 23,20 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan efisit pada Mei 2026 disebabkan pada komoditas migas sebesar defisit USD 3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas hasil minyak dan minyak mentah.

“Untuk Mei 2026, nilai ekspor tersebut turun 5,73 persen secara tahunan, sementara untuk nilai impor pada bulan Mei mengalami peningkatan 22,16 persen secara tahunan,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7).

Ateng mengatakan, komoditas nonmigas masih alami surplus meskipun lebih rendah dari April 2026. Surplus nonmigas di Mei 2026 sebesar USD 2,15 miliar, turun dibandingkan April 2026 senilai USD 3,53 miliar.

Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas ini antara lain bahan bakar mineral (HS27). Penyumbang surplus berikutnya dari lemak dan minyak hewan/nabati (HS15), dan juga besi dan baja (HS72).

Ateng mengatakan, untuk total impor di Mei 2026 mencapai USD 24,81 miliar (yoy) atau naik 22,16 persen dari Mei 2025. Kenaikan impor Mei 2026 ini berasal dari impor migas senilai USD 4,51 miliar naik 70,78 persen (yoy). Impor nonmigas pun melonjak menjadi USD 20,30 miliar pada Mei 2026 atu naik 14,89 persen (yoy).

“Peningkatan impor secara tahunannya (impor Mei 2026) ini terutama didorong impor nonmigas dengan andil peningkatan impor nonmigas sebesar 12,95 persen,” ucapnya.

Penurunan ekspor ini berasal dari penurunan ekspor migas dan nonmigas. Masing-masing untuk penurunan migas sebesar minus 31,76 persen (yoy) menjadi USD 0,76 miliar dan ekspor nonmigas turun 4,50 persen menjadi USD 22,45 miliar.

Adapun, penurunan nilai ekspor Mei 2026 secara tahunan didorong terutama oleh penurunan nonmigas dengan beberapa komoditas utama.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore