
Imbas kenaikan drastis harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter, antrean kendaraan di jalur Pertalite mengular di SPBU Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (10/6). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com - Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Green berpotensi menekan konsumsi rumah tangga.
Kepala Center of Macroeconomic and Finance INDEF, Rizal Taufiqurahman, penyesuaian BBM nonsubsidi juga akan menekan daya beli masyarakat. Ia menjelaskan, tekanan daya beli khususnya terjadi pada masyarakat kelas menengah yang sehari-hari menggunakan BBM nonsubsidi jenis Pertamax.
"Lagi-lagi, pendapatan (masyarakat) menengah akan terus tertekan seiring dengan kebijakan-kebijakan yang notabene kurang ada buffer terhadap rumah tangga ini," Rizal saat diskusi virtual, Minggu (14/6).
Lanjutnya, jika masyarakat pengguna Pertamax melakukan peralihan dengan menggunakan Pertalite atau BBM subsidi maka akan membantu meredam inflasi. Namun, kondisi tersebut akan menyebabkan konsekuensi fiskal akibat melonjaknya beban subsidi dan kompensasi energi.
"Jadi, kalau adanya migrasi konsumen dari BBM nonsubsidi ke Pertalite maka akan meningkatkan beban subsidi (dan kompensasi) energi pemerintah," ujarnya.
Impitan ekonomi akibat kenaikan biaya energi dirasakan langsung oleh Fahrudin Dwi Mukti, 30, seorang pegawai swasta yang menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi utama untuk bekerja. Pria yang akrab disapa Mukti itu mengaku terkejut dengan kenaikan harga Pertamax yang terjadi secara mendadak.
"Terus terang saya kaget juga karena naiknya mendadak dan enggak ada permintaan maaf dari pemerintah, naiknya hampir 32 persen sekaligus itu terasa berat. Dari Rp 12.300 langsung ke Rp 16.250 per liter itu bukan kenaikan kecil," ujar Mukti saat dikonfirmasi JawaPos.com, Sabtu (13/9).
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Mukti mengatakan, dirinya memahami bahwa kenaikan harga Pertamax dipengaruhi oleh faktor harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Namun, sebagai masyarakat yang menggunakan sepeda motor setiap hari untuk bekerja, ia menilai kenaikan tersebut sangat membebani pengeluaran.
"Buat masyarakat biasa yang setiap hari pakai motor untuk kerja, kenaikan sebesar itu langsung terasa di dompet. Apalagi kebijakan sekarang untuk program yang ada seperti MBG atau Kopdes masih berantakan, lebih baik anggarannya dievaluasi lagi," ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022