
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochamad Firman Hidayat di Istana Kepresidenan, Selasa (9/6)/(Istimewa)
JawaPos.com - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochamad Firman Hidayat mengeklaim bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis 1998.
Hal tersebut disampaikan usai melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (9/6).
"Kami sampaikan pada Bapak Presiden bahwa fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang masih baik ya, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis '98," ujar Firman.
Dijelaskan Firman, sejumlah indikator menunjukkan ketahanan ekonomi yang masih terjaga, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi yang stabil, hingga kondisi korporasi dan sektor perbankan yang dinilai sehat.
"Dari sisi perbankan kita juga bisa lihat Capital Adequacy Ratio dalam posisi di atas 25. Ini menunjukkan sistem perbankan kita cukup kuat," ujarnya.
Meski demikian, DEN mengingatkan adanya tekanan yang perlu diantisipasi. Menurut Firman, dampak perang global yang berkepanjangan, kenaikan harga energi dunia, serta pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi dan distribusi.
"Dan kalau teman-teman lihat kan IHK inflasi 3 persen, tapi IHPB itu di 5 persen, tapi IHPP itu di sekitar 7 persen. Dan ini yang perlu diantisipasi nanti di semester kedua. Tapi saya kira pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkahnya," kata Firman yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Bidang Percepatan Program Prioritas Ekonomi itu.
Dalam pertemuan tersebut, DEN juga menyampaikan pentingnya memperkuat kepercayaan pelaku ekonomi terhadap arah kebijakan pemerintah.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah komitmen menjaga defisit fiskal melalui efisiensi anggaran.
"Pak Presiden tadi menyampaikan efisiensi anggaran ini akan dilakukan termasuk untuk program-program prioritas seperti MBG. Jadi tadi angkanya cukup besar yang kita bisa hemat dari sisi MBG ya. Bahkan kita juga ada langkah-langkah untuk meningkatkan dari sisi penerimaan," ujarnya.
Selain menyampaikan gambaran serta masalah ekonomi saat ini, DEN mengusulkan sejumlah langkah untuk memperkuat cadangan devisa nasional.
Salah satunya melalui peningkatan remitansi pekerja migran Indonesia yang dinilai masih tertinggal dibandingkan negara lain seperti Filipina.
"Program-program Bapak Presiden untuk meningkatkan tenaga kerja migran yang berkualitas seperti perawat, electrician, dan segala macam itu bisa membantu meningkatkan devisa ke depan," kata Firman.
Sektor pariwisata juga dinilai memiliki ruang besar untuk mendongkrak pemasukan devisa. Firman mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN.
"Tahun lalu sekitar 15 juta, Vietnam 20 juta, Thailand 30 juta, Malaysia 40 juta," ujarnya.

Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Viral Investor MBG Ngamuk di Kantor BGN, APGI 3T Sebut Aksi Spontan Atas Potensi Kerugian Rp 1,8 Triliun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
