Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Mei 2026 | 20.17 WIB

Wamenkeu Juda Agung Bantah Indonesia Menuju Krisis 1998, Sebut Neraca Pembayaran hingga Fiskal RI Masih Sehat

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. (Foto: (Nurul Fitriana/JawaPos.com) - Image

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. (Foto: (Nurul Fitriana/JawaPos.com)

JawaPos.com – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung membantah anggapan yang menyebut perekonomian Indonesia tengah menuju krisis seperti yang terjadi pada 1997-1998. Menurutnya, kondisi ekonomi nasional saat ini jauh berbeda dibandingkan masa krisis moneter yang pernah menghantam Indonesia.

Dia menegaskan, jika melihat indikator ekonomi makro saat ini, tidak ada tanda-tanda Indonesia berada di ambang krisis.

“Tadi Pak Misbakhun sempat menyinggung bahwa banyak kalangan baik di media, termasuk media sosial, mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 97-98. Kalau melihat angka-angka tadi, jauh dari situasi krisis,” ujar Juda Agung dalam Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026 di Jakarta pada Senin (25/5).

Dia menjelaskan, berdasarkan pengalaman berbagai negara di dunia, krisis ekonomi umumnya muncul dari tiga sumber utama. Pertama adalah krisis fiskal atau debt crisis seperti yang pernah terjadi di Amerika Latin pada dekade 1980-an.

Menurut Juda, krisis tersebut terjadi ketika defisit fiskal membengkak dan pemerintah kehilangan kepercayaan investor sehingga tidak mampu lagi mendapatkan pembiayaan melalui penerbitan obligasi.

Namun, kondisi Indonesia saat ini disebut masih aman. Pemerintah menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3 persen dan pasar masih menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap instrumen keuangan Indonesia.

“Pembiayaan fiskal kita masih sangat dipercaya oleh investor, baik domestik maupun asing. Kelihatan dari yield-nya,” jelasnya.

Selain itu, Juda juga menambahkan, imbal hasil atau yield surat utang negara saat ini berada di kisaran 6,5 hingga 6,7 persen. Angka tersebut dinilai masih stabil dan tidak menunjukkan kepanikan pasar.

“Kalau investor tidak percaya pada yield kita, pada fiskal kita, maka yield-nya akan melonjak. Sekarang ini di sekitar 6,5-6,7 persen. Nggak jauh beda dengan sebelum terjadinya, ya ada peningkatan, tapi tidak signifikan peningkatannya. Jadi krisis yang bersumber dari fiskal tidak ada tanda-tandanya,” imbuhnya.

Selanjutnya sumber kedua pemicu krisis, lanjut Juda adalah krisis neraca pembayaran, seperti terjadi pada tahun 1997-1998. Kala itu terjadi ketika perusahaan-perusahaan berlomba-lomba untuk menarik dana dari luar negeri, bahkan waktu itu pemerintah sendiri pun tidak tahu berapa jumlanya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore