
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. (Foto: (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung membantah anggapan yang menyebut perekonomian Indonesia tengah menuju krisis seperti yang terjadi pada 1997-1998. Menurutnya, kondisi ekonomi nasional saat ini jauh berbeda dibandingkan masa krisis moneter yang pernah menghantam Indonesia.
Dia menegaskan, jika melihat indikator ekonomi makro saat ini, tidak ada tanda-tanda Indonesia berada di ambang krisis.
“Tadi Pak Misbakhun sempat menyinggung bahwa banyak kalangan baik di media, termasuk media sosial, mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 97-98. Kalau melihat angka-angka tadi, jauh dari situasi krisis,” ujar Juda Agung dalam Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026 di Jakarta pada Senin (25/5).
Dia menjelaskan, berdasarkan pengalaman berbagai negara di dunia, krisis ekonomi umumnya muncul dari tiga sumber utama. Pertama adalah krisis fiskal atau debt crisis seperti yang pernah terjadi di Amerika Latin pada dekade 1980-an.
Menurut Juda, krisis tersebut terjadi ketika defisit fiskal membengkak dan pemerintah kehilangan kepercayaan investor sehingga tidak mampu lagi mendapatkan pembiayaan melalui penerbitan obligasi.
Namun, kondisi Indonesia saat ini disebut masih aman. Pemerintah menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3 persen dan pasar masih menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap instrumen keuangan Indonesia.
“Pembiayaan fiskal kita masih sangat dipercaya oleh investor, baik domestik maupun asing. Kelihatan dari yield-nya,” jelasnya.
Baca Juga: Ungkap Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kemenkeu: Konsumsi Pemerintah Lebih Disiplin dan Tepat Waktu
Selain itu, Juda juga menambahkan, imbal hasil atau yield surat utang negara saat ini berada di kisaran 6,5 hingga 6,7 persen. Angka tersebut dinilai masih stabil dan tidak menunjukkan kepanikan pasar.
“Kalau investor tidak percaya pada yield kita, pada fiskal kita, maka yield-nya akan melonjak. Sekarang ini di sekitar 6,5-6,7 persen. Nggak jauh beda dengan sebelum terjadinya, ya ada peningkatan, tapi tidak signifikan peningkatannya. Jadi krisis yang bersumber dari fiskal tidak ada tanda-tandanya,” imbuhnya.
Selanjutnya sumber kedua pemicu krisis, lanjut Juda adalah krisis neraca pembayaran, seperti terjadi pada tahun 1997-1998. Kala itu terjadi ketika perusahaan-perusahaan berlomba-lomba untuk menarik dana dari luar negeri, bahkan waktu itu pemerintah sendiri pun tidak tahu berapa jumlanya.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Hasil Norwegia vs Inggris 1-2 di Piala Dunia 2026: Brace Jude Bellingham Bawa The Three Lions ke Semifinal
Prediksi Argentina vs Inggris di Piala Dunia: Messi Ungkap Jalan Terjal ke Semifinal, Singgung Duel Panas Lawan Three Lions pada 1986
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Beri Nafkah Kecil ke Fangfang, Vicky Prasetyo: Dari Awal Kamu Tahu Saya Punya Anak Banyak
Tragis! Gadis 13 Tahun di India Diperkosa 30 Pria Selama 5 Hari, Para Tersangka Diarak Warga
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
