
Warga makan di Warung Tegal (Warteg) Elly. FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS
"Pedagang warung makan tradisional seperti warteg memang sedang terhimpit oleh kenaikan biaya operasional, sementara daya beli masyarakat terutama kelas pekerja dan menengah ke bawah, sedang merosot tajam," ujarnya kepada Jawapos.com, dikutip Sabtu (6/6).
Mukroni membeberkan beberapa gambaran atau situasi di balik etalase kaca warteg saat ini. Pertama, adanya pembatasan anggaran makan atau fenomena "Pas Rp20.000" bahkan ada yang meminta Rp15.000 sekali makan.
Menurut dia, pembeli kini tidak lagi membeli menu secara keinginan, melainkan berdasakan sisa uang di dalam dompet.
"Polanya berubah menjadi: "Bu, nasi pakai tempe, sayur, sama tahu, telur asin dan kerupuk Rp15.000 ya," katanya. Kondisi ini membuat makanan yang mengandung protein tinggi seperti ikan, sapi, atau ayam, menjadi tidak laku.
"Porsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi seperti daging sapi, ikan, atau ayam semakin jarang disentuh dan beralih ke protein nabati (tempe/tahu) atau sekadar kuah dan sayur," tambahnya.
Kedua, pedagang terjebak "Simalakama".
Bagi para pelaku usaha warteg, kondisi ini menciptakan dilema yang sangat berat di tengah kenaikan harga bahan baku seperti beras, minyak goreng, cabai, hingga kantong plastik.
Di satu sisi, jika harga dinaikkan, bakal membuat pembeli kabur. Di sisi lain jika takaran porsi dikurangi membuat pembeli kecewa.
Baca Juga:Sering Nyeri Kepala di Pagi Hari? Waspadai 9 Gejala Hipertensi pada Lansia Ini Sebelum Terlambat!
"Hasilnya sekarang banyak pedagang memilih mengalah dengan mengorbankan margin keuntungan (omzet merosot) demi menjaga warung tetap berputar dan pelanggan tetap bisa makan," ujarnya.
Ketiga, lanjut Mukroni, tekanan biaya operasional. Bukan hanya urusan isi piring, beban warteg juga makin berat karena faktor non-pangan seperti kenaikan harga barang-barang pelengkap operasional misalnya fluktuasi harga plastik pembungkus/kresek, biaya sewa tempat dan tarif utilitas yang terus merangkak naik di kawasan perkotaan.
Mukroni bilang, kondisi ini menegaskan bahwa warteg yang selama ini menjadi jaring pengaman sosial bagi isi perut masyarakat urban, kini justru berada di garis depan yang paling merasakan dampak langsung dari tekanan makroekonomi dan inflasi.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
