
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com – Neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I 2026 tercatat defisit tajam sebesar USD 9,1 miliar. Angka tersebut berbalik drastis dibandingkan surplus besar pada kuartal sebelumnya dan menjadi level kuartalan terendah setidaknya dalam dua dekade terakhir.
Mengutip dari Quarterly Economic Briefing PT Bank Central Asia yang memiliki kode emiten BBCA, tekanan datang secara simultan dari dua sisi utama, yakni pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account (CA) sebesar USD 4 miliar serta memburuknya neraca keuangan atau financial account (FA) yang mencatat defisit USD 4,9 miliar. Kondisi itu turut menyeret cadangan devisa Indonesia turun sekitar USD 8,3 miliar.
Secara makroekonomi, kondisi tersebut dinilai cukup jarang terjadi karena defisit melebar bersamaan di transaksi berjalan dan neraca keuangan. "Tekanan dua sisi ini menunjukkan bahwa upaya untuk menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan nilai tukar menjadi semakin sulit dan mahal," bunyi riset para ekonom BCA, dikutip Jumat (29/5).
Dalam laporan itu disebutkan bahwa pelebaran defisit transaksi berjalan terjadi akibat penurunan ekspor barang yang lebih dalam dibandingkan penurunan impor. Di sisi lain, sejumlah komponen lain relatif stabil atau justru mengalami penyempitan defisit.
Penurunan ekspor disebut dipengaruhi pembatasan kuota produksi pada sejumlah komoditas ekspor utama. Sementara itu, impor tetap kuat, salah satunya terdorong berbagai program pemerintah yang meningkatkan kebutuhan barang dari luar negeri.
Tekanan paling dalam terjadi di neraca keuangan. Surplus investasi langsung dan investasi portofolio tercatat menurun signifikan, sedangkan komponen investasi lainnya bahkan mengalami defisit tajam.
"Sentimen negatif global dan domestik menjadi pemicu utama keluarnya arus modal. Pada sub-komponen investasi lain, kategori mata uang dan deposito milik sektor swasta mencatat arus keluar terdalam sejak periode pandemi Covid-19," bunyi riset ekonom BCA itu.
Ke depan, tekanan diperkirakan belum akan mereda. Dari sisi global, bank sentral Amerika Serikat atau The Fed diperkirakan masih mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan masih membuka peluang tambahan kenaikan suku bunga.
Kondisi tersebut membuat likuiditas global tetap ketat dan berpotensi menekan ekspor serta arus masuk modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara dari dalam negeri, periode Juni hingga September 2026 disebut menjadi fase krusial yang akan menentukan arah stabilitas eksternal Indonesia.
Setidaknya terdapat tiga isu utama yang dipantau pelaku pasar, yakni rebalancing MSCI, kebijakan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di bank BUMN, serta transisi kegiatan ekspor sejumlah komoditas ke PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022