
EmPower National Forum 2026 di Jakarta. (Istimewa)
JawaPos.com - Perempuan pelaku usaha ultra mikro dinilai menjadi kelompok paling rentan menghadapi dampak perubahan atau krisis iklim. Mulai dari penurunan pendapatan, gangguan produksi, hingga terbatasnya akses terhadap teknologi dan pembiayaan hijau. Di sisi lain, perempuan justru memegang peran penting dalam menjaga ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam EmPower National Forum 2026 bertajuk Scaling-Up Women’s Access to Finance for Climate Action yang digelar KUMPUL bersama UN Women dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
Forum ini mempertemukan lebih dari 100 peserta dari pemerintah, lembaga pembiayaan, organisasi pembangunan, akademisi, sektor swasta, hingga komunitas wirausaha perempuan untuk membahas tantangan dan peluang pembiayaan iklim yang inklusif gender di Indonesia.
Pembahasan utama dalam forum ini menyoroti masih lebarnya kesenjangan akses perempuan terhadap sumber daya produktif dan pembiayaan, padahal mereka memiliki kontribusi besar dalam sektor pangan dan ekonomi lokal.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menunjukkan perempuan menghasilkan sekitar 60–80 persen pangan di negara berkembang, tetapi hanya menguasai kurang dari 20 persen kepemilikan lahan. Ketimpangan tersebut dinilai memperburuk kerentanan perempuan saat krisis iklim terjadi.
Head of Programmes UN Women Indonesia Dwi Yuliawati mengatakan, pemberdayaan perempuan bukan hanya isu sosial, tetapi strategi ekonomi yang terbukti efektif dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.
”Studi telah memperlihatkan bahwa, apabila perempuan mendapat kendali lebih besar atas sumber daya produktif, maka akan menghasilkan dampak yang jauh lebih luas. Ini bukan sekadar retorika, melainkan bukti bahwa memberdayakan perempuan adalah strategi ketahanan yang paling efisien secara ekonomi,” ujar Dwi.
Program EmPower sendiri merupakan inisiatif UN Women dan UNEP yang didukung Pemerintah Selandia Baru, Jerman, Swedia, dan Swiss untuk memperkuat aksi iklim responsif gender di kawasan Asia Pasifik. Di Indonesia, program tersebut berfokus pada penguatan peran perempuan dalam aksi iklim, keterlibatan dalam pengambilan keputusan lingkungan, hingga pengembangan mata pencaharian tangguh iklim melalui akses pembiayaan hijau.
Implementasi program dimulai melalui proyek percontohan di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur pada 2025, lalu diperluas ke Jawa Barat dan Jawa Timur pada awal 2026. Dalam pelaksanaannya, perempuan pelaku usaha ultra mikro diperkenalkan dengan teknologi cerdas iklim atau climate-smart technology yang dinilai mampu membantu mereka beradaptasi terhadap dampak perubahan cuaca.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
