Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 Mei 2026 | 22.45 WIB

Berpengaruh terhadap Harga BBM, Pelemahan Rupiah jadi Perhatian Menteri ESDM Bahlil

Warga membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu SBPU di Depok, Jawa Barat, Selasa (31/3/2026). Pelemahan kurs Rupiah akan membebani biaya bahan bakar lantaran masih mengandalkan impor. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Warga membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu SBPU di Depok, Jawa Barat, Selasa (31/3/2026). Pelemahan kurs Rupiah akan membebani biaya bahan bakar lantaran masih mengandalkan impor. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia masih membahas pengaruh melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar kepada harga bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi energi.

"Kebetulan Pak Menteri (ESDM) bersama jajaran menteri lain sedang merapatkan hal tersebut, jadi kita tunggu," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman, dikutip dari Antara, Minggu (17/5).

Untuk saat ini, kata Laode, pemerintah masih melihat perkembangan berikutnya ihwal pengaruh nilai tukar terhadap harga bahan bakar. "Belum ada info-info lain selain yang ada sekarang. Kami lihat perkembangan berikutnya saja nanti," kata dia.

Harga BBM tidak hanya dipengaruhi oleh harga minyak dunia. Ada faktor lainnya yang turut berkontribusi, seperti kurs rupiah terhadap dolar. Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (13/5) lalu menyentuh Rp 17.515 per dolar AS, bergerak menguat 14 poin atau 0,08 persen apabila dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.529 per dolar AS.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan siap menstabilkan pasar obligasi dengan menjaga tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) guna membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini menyentuh Rp 17.500 per dolar AS.

Purbaya mengatakan, stabilisasi dilakukan melalui bond stabilization fund (BSF) dengan menggunakan anggaran yang tersedia serta dimungkinkan melalui mekanisme buyback.

Di tengah laju pelemahan rupiah, ia meyakini Bank Indonesia (BI) mampu menjaga stabilitas nilai tukar sesuai mandat dan kapasitas yang dimilikinya.

Adapun intervensi di pasar obligasi dilakukan untuk menahan kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Purbaya mengingatkan, kenaikan yield yang berlebihan dapat memicu capital loss bagi investor asing dan mendorong arus modal keluar.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore