
Bentuk desain eksterior dari Pick-Up Mahindra buatan India yang akan digunakan oleh Koperasi Merah Putih terparkir di Gedung Agrinas, Jakarta, Kamis (12/03). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Polemik rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mulai mencuat dan memicu perdebatan di berbagai kalangan.
Kebijakan tersebut menuai sorotan karena dinilai berpotensi memengaruhi industri otomotif dalam negeri, terutama produsen kendaraan niaga yang selama ini telah memproduksi pikap di Indonesia.
Sejumlah pelaku industri dan pengamat mempertanyakan alasan pemilihan impor kendaraan dari luar negeri. Mereka menilai kebutuhan tersebut seharusnya bisa dipenuhi oleh produsen lokal, sehingga kebijakan itu dinilai perlu dikaji lebih dalam agar tidak menimbulkan dampak terhadap keberlangsungan industri otomotif nasional.
Melihat hal ini, pengamat otomotif, Yannes Pasaribu, menjelaskan bahwa keputusan mengimpor kendaraan niaga dari India pada dasarnya bisa dibaca sebagai corporate action yg berorientasi keuntungan jangka pendek. Sebab, fokus utamanya adalah efisiensi belanja modal tanpa mempertimbangkan dampak terhadap ekosistem industri otomotif domestik.
“Biaya tenaga kerja otomotif di India memang jauh lebih rendah dibanding Indonesia, sehingga biaya produksi per unit bisa ditekan sekitar 15–20 persen. Ditambah lagi adanya skema perdagangan seperti AIFTA atau CEPA yg membuat tarif bea masuk hanya sekitar 0–10 persen, sehingga landed price kendaraan impor seperti Mahindra Scorpio Pick-Up atau Tata Yodha Pick-Up bisa berada di kisaran Rp 150–350 juta per unit,” kata Yannes kepada JawaPos.com.
Sebaliknya, produk rakitan dalam negeri seperti Toyota Hilux atau Isuzu Traga berada pada kisaran Rp300–580 juta lantaran harus menanggung berbagai lapisan pajak domestik yg totalnya bisa melampaui 45 persen, mulai dari PPN sekitar 11 persen, PPnBM hingga sekitar 20 persen untuk kendaraan niaga diesel tertentu, PPh 22 impor komponen, serta biaya administrasi SRUT dan registrasi kendaraan.
“Dengan struktur biaya seperti itu, impor dianggap mampu menghemat sekitar Rp5-10 triliun dari nilai kontrak Rp24,66 triliun sekaligus memungkinkan pengiriman unit lebih cepat mulai 2026 tanpa harus menunggu lead time produksi lokal yg biasanya memakan waktu sekitar 6–12 bulan. Dari situ bisa kita lihat betapa besarnya pemerintah menggaruk uang konsumen untuk kas negara yang membuat mobil di Indonesia menjadi over priced,” jelasnya.
Menurutnya, secara teknis kendaraan impor tersebut memang memiliki spesifikasi yang cukup tangguh, misalnya sistem penggerak 4x4 rugged, ground clearance sekitar 210–230 mm, serta torsi besar yang cocok untuk medan berat. Spesifikasi dinilainya memang relevan untuk sebagian wilayah desa ekstrem di Indonesia.
“Misalnya untuk sekitar 10–20 persen wilayah terpencil di Sumatera, Kalimantan, Papua, atau NTT yg memiliki kondisi jalan tanah dan medan offroad berat,” ungkapnya.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
