
Layar menampilkan pergerakan IHSG saat penutupan perdagangan PT Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Ekonomi Indonesia memulai 2026 dengan angin segar. Mengapa demikian? Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan sentiment positif, mulai dari pasar keuangan, pasar saham, hingga inflasi.
Pasar keuangan dibuka dengan momentum yang jauh lebih kuat dibanding awal 2025. Kondisi ini menjadi modal positif bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menatap arah ekonomi nasional sepanjang 2026.
Dalam laporannya, BRI Danareksa Sekuritas menilai titik awal 2026 jauh lebih stabil, didukung membaiknya situasi makro global dan domestik.
Tekanan besar yang sempat membayangi pasar tahun lalu, mulai dari dolar AS yang kuat, lonjakan yield global, hingga likuiditas ketat, kini perlahan mereda.
“Starting point 2026 terlihat jauh lebih stabil dibandingkan awal 2025, dengan sejumlah headwind utama kini justru mereda,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan terbarunya, Rabu (14/1).
Dari sisi global, inflasi yang terus mendingin membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar. Ekspektasi The Fed yang cenderung akomodatif diperkirakan menekan penguatan dolar AS dan mempersempit diferensial suku bunga. Kondisi ini dinilai lebih ramah bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Likuiditas global juga masih relatif longgar. Yield jangka pendek tertahan, sementara kenaikan yield tenor panjang lebih dipicu oleh risiko fiskal dan geopolitik, bukan karena pengetatan moneter agresif. Situasi tersebut memberi ruang bagi stabilitas pasar obligasi dan aset berisiko.
IHSG Positif hingga Inflasi Lebih Sehat
Sentimen positif tercermin di pasar saham. LaporanBRI Danareksa Sekuritas mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 3,4% secara year to date dan sempat mencetak rekor tertinggi dengan menembus level psikologis 9.000 pada pekan pertama Januari 2026. Secara historis, penguatan awal tahun kerap menjadi sinyal membaiknya minat risiko investor.
Namun, BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan bahwa kinerja setahun penuh tetap ditentukan faktor makro dan rotasi sektoral. Pengalaman 2025 menunjukkan penguatan IHSG juga bisa didorong oleh reli terbatas pada saham-saham tertentu.
Dari sisi domestik, inflasi mulai bergerak menuju level yang lebih sehat. Inflasi Desember 2025 tercatat 2,92%, tertinggi sejak 2022, didorong harga emas, volatile food, dan penyesuaian harga yang diatur pemerintah. Inflasi inti yang meningkat moderat mencerminkan pemulihan permintaan domestik.
Kebijakan upah juga bergerak lebih seimbang. Kenaikan Upah Minimum Provinsi 2026 rata-rata 5,82% dinilai menjaga daya beli tanpa membebani dunia usaha. Di sejumlah daerah, seperti Sulawesi Tengah, kenaikan upah mencerminkan dampak positif hilirisasi nikel.
Meski rupiah dan yield masih berfluktuasi, arus dana asing menunjukkan sinyal konstruktif. Investor global kembali mencatatkan net inflow ke pasar obligasi dan saham di awal tahun.
Dengan kombinasi stabilitas makro, normalisasi inflasi, dan dukungan arus modal, awal kuat 2026 menjadi bekal penting bagi pemerintahan Prabowo menjaga optimisme ekonomi nasional.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
