
Zahrun Abidin Latif, 30 tahun, petani milenial di Lampung Timur, yang merasakan manfaat penurunan harga pupuk bersubsidi. (Dimas Choirul/JawaPos.com)
JawaPos.com – Embun masih menggantung di ujung daun ketika matahari pagi mulai naik perlahan di Dusun V Rejo Mukti, Desa Ratna Daya, Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur.
Di sela bedengan tanah yang lembap, Zahrun Abidin Latif, 30 tahun, menjejakkan kaki tanpa alas. Tangannya dengan cekatan merapikan tanaman, sesekali menengok jagung yang tumbuh seragam tak jauh dari ladang sayurannya.
Bagi Abidin, demikian ia biasa disapa, pagi bukan sekadar waktu memulai hari. Ini adalah waktu yang tepat untuk berdialog dengan tanaman sekaligus memikirkan masa depan swasembada pangan.
"Orang kota mau makan apa jikalau petani di desa sudah tidak produksi bahan pokok ataupun sayuran?" ungkapnya kepada Jawapos.com, Kamis (18/12).
Abidin telah mengenal dunia pertanian sejak belia. Itu berkat jasa orang tuanya yang berprofesi sebagai petani.
Sejak dini, pria 30 tahun itu sudah diajarkan mengenai apa yang semestinya ditanam dan bagaimana memperlakukan lahan.
Namun, seperti anak petani lainnya, bagi Abidin dulu sawah hanyalah tempat bermain: menghabiskan waktu berlari- larian bersama teman, memancing belut, menerbangkan layangan hingga azan maghrib tiba.
Seiring berjalan waktu, keputusan Abidin untuk menanam sendiri baru Ia ambil saat awal pandemi Covid-19. Atau sekitar setahun lebih setelah ia lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 2018 lalu.
“Untuk terjun ke ladang (sawah) dan mencoba menanam sendiri khusus palawija (sayur-sayuran) itu mulainya 2019/2020 ketika covid," ujarnya.
Abidin mengelola sekitar tiga perempat hektare lahan milik ayahnya. Lahan itu tak pernah ia biarkan kosong.
Ia membaginya dalam tiga area tanam. Seperempat hektare ditanami pisang dan alpukat, seperempat lainnya jagung, dan sisanya aneka sayuran—terong, cabai, hingga kacang panjang.
“Kalau menanam padi waktu sebelum penghujan. Setelah bulan penghujan ya jagung sama sayuran," tambah pria yang juga hobi naik gunung itu.
Di balik rutinitas paginya, Abidin menyimpan ingatan tentang masa-masa sulit bertani. Tantangan terbesarnya dulu bukan hanya cuaca, melainkan pupuk dan harga. Tapi, itu semua sudah berlalu.
Jika dulu hanya dengan membeli pupuk bisa menggerogoti isi dompetnya, saat ini Ia tersenyum lega. Karena pemerintah secara resmi telah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk hingga 20 persen.
Selain soal pupuk, Ia juga merasakan betul bahwa saat ini hasil panen dihargai cukup tinggi sehingga petani tidak rugi.

Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Green Force Bisa Sapu Bersih Laga!
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal!
Jadwal Aston Villa vs Indonesia All Stars: Jam Kick-off, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad
Hasil Babak Pertama Persebaya vs Port FC: Miguel Pereira Cetak Gol Perdana, Skor Masih 1-1
Prediksi Persebaya Surabaya vs Port FC: Bruno Moreira Dikabarkan Cedera, Bernardo Tavares Buka Peluang Rotasi Pemain
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
