
Ilustrasi toko kelontong jadi penopang ekonomi lokal di tengah gempuran retail modern. (Istimewa)
JawaPos.com-Di tengah pesatnya ekspansi ritel modern dan maraknya platform belanja daring, toko kelontong tradisional tetap menjadi tumpuan ekonomi masyarakat lokal.
Di berbagai daerah, sejumlah pemilik toko kelontong bahkan mulai berkolaborasi dengan pelaku usaha mikro untuk membuka akses pasar dan memperkuat ekonomi komunitas.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Namun, sebagian besar pelaku usaha kecil masih menghadapi kendala permodalan, pemasaran, dan akses distribusi.
Di tengah tantangan itu, muncul berbagai inisiatif akar rumput yang mempertemukan toko kelontong dengan pelaku UMKM agar saling menopang.
Salah satunya datang dari Bekasi, Jawa Barat. Dwi, pemilik Toko SRC Toya, membuka sebagian rak di tokonya untuk menampung produk buatan pelaku UMKM sekitar.
Melalui sistem titip jual, Dwi membantu para ibu rumah tangga yang memproduksi camilan rumahan untuk memasarkan barang mereka dengan modal ringan. Kini, omzet produk lokal di tokonya mencapai rata-rata Rp 3,4 juta per bulan.
“Awalnya saya ingin membantu tetangga yang butuh tambahan penghasilan. Tapi ternyata banyak yang terbantu, dan toko juga makin ramai,” ujar Dwi membagikan kisahnya.
Langkah serupa dilakukan Iskandar, pemilik Toko SRC Bu Darmi di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia bekerja sama dengan Ibu Nyai, pelaku usaha rumahan yang memproduksi nastar dan kacang goreng daun jeruk.
Melalui kolaborasi tersebut, Iskandar membantu Ibu Nyai mengurus izin PIRT ke Dinas Kesehatan dan memperbaiki kualitas produk. Kini omzet usahanya mencapai Rp 2 juta per bulan dan mampu mempekerjakan empat orang.
“Melalui kerja sama ini, saya belajar pentingnya menjaga kualitas dan legalitas produk. Sekarang pelanggan makin percaya,” tutur Ibu Nyai.
Sementara di Magelang, Jawa Tengah, pemilik Toko SRC Rohmah membantu pelaku UMKM di lingkungannya memperbaiki kemasan produk agar lebih menarik.
Salah satu pelaku usaha, Dwi yang sebelumnya menjual produk dalam kemasan plastik biasa, kini menggunakan kemasan berlabel hasil pendampingan PKK Dharma Wanita setempat. Omzet usahanya meningkat hingga Rp 2 juta per bulan dengan rata-rata penjualan 90 bungkus setiap bulan.
“Kalau tampilannya bagus, pembeli lebih percaya. Produk lokal pun bisa bersaing dengan barang pabrikan,” kata Rohmah.
Transformasi toko kelontong menjadi ruang pemasaran bagi UMKM bukan hanya membantu pelaku usaha kecil bertahan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat daya saing ekonomi lokal.
Di tengah dominasi pasar modern, kolaborasi semacam ini menjadi bukti bahwa ekonomi kerakyatan masih punya ruang untuk tumbuh.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Swedia dan Tunisia di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Der Panzer Siap Menggila di Laga Perdana
MUI Minta Pelaku dan Pengkampanye LGBTQ Bisa Dipidana, Lebih Berat dari Pasal Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Skor Haiti vs Skotlandia di Piala Dunia 2026: The Tartan Army Bisa Menang Besar!
