
Ilustrasi mata uang Brasil yang sempat melemah akibat redenominasi. Jadi Pelajaran untuk Indonesia sebelum lakukan redenominasi Rupiah. (Pexels)
JawaPos.com - Rencana penyederhanaan nominal mata uang atau redenominasi kerap dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing hingga menjaga perekonomian.
Meski begitu, tidak semua negara berhasil melakukannya. Sejumlah negara justru terjebak dalam ketidakstabilan ekonomi hingga inflasi yang membuat kebijakan tersebut gagal mencapai tujuan.
Alih-alih memperbaiki nilai mata uang, redenominasi malah memicu gejolak baru dan menurunkan kepercayaan publik terhadap sistem finansial.
Hal itu dialami oleh sejumlah negara yang pada akhirnya mengalami kegagalan. Di antaranya seperti Brasil, Ghana dan Zimbabwe.
Itu sebabnya, Indonesia yang baru merencanakan untuk membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait redenominasi bisa banyak belajar dari sejumlah negara yang gagal menerapkan redenominasi.
Brasil pernah melakukan redenominasi pada mata uangnya. Namun, usai menerapkan kebijakan itu Brasil justru mengalami banyak kerugian akibat mengubah jumlah digit mata uang, karena buruknya kondisi ekonomi hingga situasi politik.
Pasca redenominasi, mata uang Brasil terdepresiasi parah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) dan mengalami peningkatan inflasi.
Adapun saat itu, Pemerintah dan Bank Sentral Brasil mengubah nomimal sekaligus mata uang dari cruzeiro menjadi cruzado sepanjang tahun 1986 sampai tahun 1989.
Rusia pernah melakukan redenominasi mata uangnya, namun upaya mengganti mata uang lama tak berjalan sesuai rencana. Di awal redenominasi, nilai tukar kurs mata uang rubel Rusia sempat terjun bebas.
Negara Presiden Vladimir Putin itu juga kurang melakukan sosialisasi penggunaan mata uang baru dan penarikan bertahap mata uang lama secara masif. Kondisi keuangan negara yang sulit juga berkontribusi pada kegagalan redenominasi.
Negara yang terletak di Afrika Barat ini mengalami peningkatan inflasi sebesar lima persen, setahun setelah menerapkan kebijakan redenominasi.
Salah satu penyebabnya adalah 70% uang beredar di Ghana berada di luar sistem perbankan. Transaksi di Ghana lebih banyak terjadi secara tunai daripada sistem perbankan.
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam redenominasi adalah money illusion. Dampak bias psikologis ini memberikan efek bahwa harga barang menjadi lebih murah sebab hilangnya tiga digit angka nol.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Sebagai contoh jika saat ini harga barang adalah Rp 50.000, hal tersebut dirasa cukup berat bagi konsumen.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022